BATU - Sektor informal masih eksis sebagai ladang mencari pundi rupiah bagi warga di Kota Batu. Berdasarkan data Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker), hampir separo atau sekitar 49 persen dari total angkatan kerja merupakan pekerja di sektor informal. Mulai dari bertani, berdagang, ternak, hingga seniman.
Sementara sisanya sebanyak 51 persen bekerja di sektor formal. Seperti pegawai pemerintahan hingga pegawai perusahaan swasta. Kepala Disnaker Thomas Wunang Tjahjo mengatakan Kota Batu potensial dan punya peluang besar untuk membuka usaha. Terutama di bidang pertanian dengan sistem hortikultura.
“Bahkan tak hanya sekadar produksi saja. Pelaku usaha juga bisa memasarkan dan memilih segmentasinya sendiri,” ungkapnya. Dari situlah banyak masyarakat yang mulai ekspansi ke berbagai daerah dalam pemasaran produknya. Potensi pendapatannya pun cukup besar dibandingkan sektor formal.
Hal itu sekaligus menjadi alasan mengapa sektor informal digemari nyaris separo dari angkatan kerja masyarakat di Kota Batu. Fleksibilitas jam kerja juga menjadi faktor lainnya. Bahkan, pekerja di sektor formal juga ada yang memiliki side job di sektor informal. “Ada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang kerja sampingan menjadi peternak,” bebernya.
Lebih lanjut, mantan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu itu menilai sektor informal minim risiko. Khususnya dalam hal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Jika bekerja di sektor formal maka ada risiko perusahaan mengalami pailit sehinggga terpaksa melakukan PHK. Beruntung kini sudah banyak masyarakat yang punya pekerjaan sampingan.
Peminat sektor informal kini didominasi generasi Z. Menjadi pekerja kantor saat ini tampak tidak relevan dengan karakter gen Z yang cenderung ingin bebas, tidak terikat, dan flesibel. Itulah mengapa mereka lebih banyak wirausaha. Ditambah dengan penguasaan teknologi yang bisa mereka andalkan untuk pengembangan bisnis.
Kendati begitu, Thomas menyebut ada banyak tantangan yang harus dihadapi para pekerja di sektor informal. Seperti ketidakpastian pendapatan hingga kemampuan mempertahankan bisnis. Misalnya pertanian yang sangat bergantung dengan cuaca. Sedangkan, belakangan ini kerap terjadi cuaca ekstrem.
Selain itu, pertumbuhan bisnis baru yang kian masif menjadi kompetisi usaha semakin ketat. Dengan begitu, pengusaha dituntut terus adaptif, kreatif, dan inovatif dengan perkembangan zaman dan pasar. “Terakhir, pekerja di sektor informal juga tak mendapat perlindungan jaminan sosial, kesehatan, pensiun, dan tunjangan lainnya,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho