BATU - Upaya regenerasi petani di Kota Batu bisa dibilang berhasil. Itu tampak dari jumlah petani yang terus meningkat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Akhir 2023 lalu jumlah petani hanya 18.408 orang saja. Namun, pada akhir 2024 lalu jumlahnya meningkat 592 menjadi 19 ribu petani.
Sayangnya, peningkatan jumlah petani tak diikuti pertumbuhan lahan pertanian yang signifikan. Bahkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu luas lahan pertanian justru anjlok. Dari semula 41.925,79 hektare pada 2023 lalu, susut menjadi 38.972,75 hektare pada 2024 kemarin (selengkapnya baca grafis).
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Heru Yulianto mengungkapkan, jumlah petani sempat mengalami penurunan pada 2022 lalu. Pada tahun itu jumlah petani susut 2.200 orang. “Beruntung generasi muda sekarang mulai melirik pertanian,” ungkapnya.
Keluarga petani memiliki andil penting dalam memutar siklus pertanian di Kota Batu. Para orang tua umumnya sudah mengajarkan bercocok tanam sejak dini kepada anak-anaknya. Kesadaran regenerasi itu kemudian terbangun. Bahkan, ada beberapa anak petani yang sengaja kuliah di jurusan pertanian untuk mengembangkan pertanian keluarga.
Ada sekitar 60 orang yang mendaftar sebagai petani milenial pada tahun lalu. Mayoritas sudah memiliki embrio usaha di bidang pertanian dan ingin mengembangkan bisnisnya itu. Kemudian Pemkot Batu menyeleksi sebanyak 15 petani milenial untuk diberikan penghargaan. Mereka juga diminta untuk pengimbasan ilmu kepada petani muda lainnya.
Melalui skema itu, Heru optimistis renegerasi petani di Kota Batu dapat terus belanjut. Meskipun dirinya tak menutup mata dengan tantangan yang akan dihadapi para petani muda akibat dampak perkembangan zaman. Salah satunya penyempitan lahan akibat alih fungsi. Seperti untuk pembangunan perumahan atau bisnis kafe yang kian menjamur.
“Kami sudah melarang alih fungsi lahan khususnya di Kecamatan Bumiaji. Sebab, di sana kami fokuskan untuk lahan pertanian,” bebernya. Namun, Heru mengaku kerap terbentur dengan keterbatasan intervensi atas lahan dengan hak milik pribadi. Misalnya, lahan pertanian yang diwariskan kepada anak cucu yang akhirnya beralih fungsi.
Misalnya, untuk dibangun rumah atau bahkan dijual. Fenomena itulah yang kerap membuat Pemkot Batu kecolongan. Dari situlah luas lahan pertanian akhirnya berkurang pelan-pelan. Kendati begitu, Heru menilai kondisi pertanian di Kota Batu masih relatif aman. Terutama untuk komoditas hortikultura seperti tanaman hias, sayur, dan buah-buahan.
Ada beberapa komoditas sayur yang mengalami luas lahannya meningkat. Seperti bawang daun, kentang, sawi, dan wortel. Alasannya komoditas tersebut dinilai cukup menguntungkan dan cocok dengan iklim Kota Batu saat ini. Itu terbukti dari produksi kentang yang bisa menghasilkan pendapatan hingga Rp 300 juta per hektarenya.
Padahal biaya produksi hanya berkisar Rp 80 juta saja. Artinya, ada keuntungan bersih mencapai Rp 220 juta per hektare. Itu salah satu alasan petani muda mulai melirik pertanian kembali. Sayangnya, kondisi yang sama tidak terjadi pada komoditas bawang merah, cabai, kangkung, dan masih banyak lainnya.
Luas lahan komoditas tersebut tercatat 40.200,84 hektare pada 2023 lalu. Kemudian menyusut menjadi 37.480,47 hektare pada 2024. Rata-rata penyusutan mencapai 2-5 hektare per tahun. Itulah mengapa komoditas tersebut tidak terlalu dilirik petani muda. Selain kentang, mereka juga lebih banyak tertarik ke komoditas tanaman hias.
Seperti komoditas anggrek pot, bromelia, krisan, pakis, mawar, hingga philodendron. Maka tak heran jika luas lahannya terus meningkat. Misalnya, luas lahan mawar pada 2023 lalu hanya 102,1 hektare saja. Sekarang meningkat menjadi 103,1 hektare. Lahannya terpusat di kawasan Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji.
Di balik itu, pamor komoditas buah tampaknya makin redup. Padahal dulu Kota Batu terkenal sebagai kota bunga dan buah. Khususnya komoditas apel. Namun, luas lahan perkebunannya kini mengalami penyusutan signifikan setiap tahunnya. Kondisi itu disebabkan faktor agroklimat dan perubahan struktur tanah.
“Jadi memang banyak petani beralih ke komoditas lain. Misalnya dari apel ke jeruk atau ke komoditas sayur,” ungkapnya. Saat ini lahan apel hanya tersisa 740,07 hektare saja setelah sebelumnya luasnya mencapai 823,33 hektare. Lahan apel kini hanya tersisa di Desa Tulungrejo, Desa Sumbergondo, Desa Bulukerto, dan Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji.
Di kawasan yang sama, lahan juga masih produktif untuk komoditas stroberi. Namun, kini lahan tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk wisata petik buah saja. Pun sama dengan lahan apel. Namun, nasib komoditas stroberi lebih mujur. Sebab, luas lahannya meningkat dari awalnya 9,88 hektare menjadi 10,08 hektare.
Penyusutan luas lahan secara umum tentu membuat produksi pertanian ikut menurun. Penuruan paling signifikan terjadi terhadap komoditas sayur. Pada 2023 lalu produksi sayur bisa mencapai 710.284,09 kuintal per tahun lalu turun menjadi 702.129,38 kuintal per tahun pada 2024 kemarin.
Penurunan hasil produksi sayur paling mencolok disumbang komoditas bawang daun. Pada 2023 lalu produksinya masih di angka 76.303,94 kuintal per tahun. Lalu susut di angka 71.673 kuintal per tahun. Hal yang sama juga terjadi pada komoditas bawang merah. Pada 2023 lalu produksinya mencapai 38.493 kuintal jadi 35.582 kuintal saja per tahun pada 2024.
Heru menyebut komoditas tersebut sangat dipengaruh cuaca. Potensi gagal panen pun sangat tinggi. Khususnya saat musim penghujan panjang. Hal itu kerap dimitigasi dengan penyediaan lahan tadah hujan yang tersebar di Desa Tlekung, Desa Oro-Oro Ombo, Desa Sumberejo, Desa Punten, dan 10 desa dan kelurahan lainnya. Sehingga total ada 14 titik.
Sayuran yang ditanam di lahan tadah hujan di antaranya sawi daging, sawi manis, seledri dan bawang daun. Tingkat produktivitas dari hasil lahan tadah hujan cukup tinggi. Per hektare, paling tidak hasil panen bisa mencapai 35-40 ton untuk jenis sayuran. “Untuk jagung paling tidak berkisar 6-7 ton per hektare,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho