BATU - Mayoritas peternak di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji sudah memanfaatkan limbah kotoran sapi sebagai biogas untuk pengganti kompor gas. Sekitar 90 persen peternak di sana sudah memiliki alat biogas rumahan tersebut.
Satu biogas bisa digunakan 1-3 kompor gas. Sehingga, satu biogas bisa dimanfaatkan hingga tiga dapur rumah tangga. "Saya sudah menggunakan biogas sejak 2015," terang Sugianto, salah seorang peternak sapi perah.
Dia menjelaskan ada 50 kilogram kotoran dari 10 ekor sapi miliknya yang dimasukkan ke dalam lubang penampungan. Kemudia kotoran itu digiling hingga serat-serat inti mengalir melalui pipa bawah tanah menuju ke penampungan tertutup.
Gas yang dihasilkan dari proses itu kemudian dialirkan menggunakan pipa ke kompor. Dari situlah warga Dusun Brau menghasilkan api untuk aktivitas memasak di dapur. "Karakteristiknya sama seperti gas yang biasa kita beli di warung," ucap pria 40 tahun itu.
Ayah tiga anak itu memastikan biogas tak menghasilkan bau tak sedap. Kendati berasal dari kotoran sapi. Aroma tak sedap baru akan muncul ketika sumber gas tak dimatikan.
Terpisah, Ketua Koperasi Margo 8 Mandiri, Muhammad Munir mengatakan sosialisasi terkait biogas sudah dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Dia mengungkapkan ada tiga kategori biogas di Dusun Brau, Kecamatan Bumiaji.
"Ada biogas untuk 1 Kartu Keluarga (KK), untuk 3 KK, dan untuk 5 KK," terang Munir. Dia menjelaskan peruntukan masing-masing kategori berbeda-beda. Namun, kebanyakan untuk penggunaan mandiri di rumah. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho