BATU - Pengguna jasa ojek di Pasar Induk Among Tani Kota Batu kian sepi. Itu membuat pendapatan tukang ojek di sana sangat rendah. Pendapatan rata-rata harian mereka hanya berkisar Rp 30-60 ribu saja.
Bahkan tak jarang tukang ojek harus gigit jari lantaran tak dapat pelanggan sama sekali. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Di antaranya kunjungan pasar yang didominasi para tengkulak. Baik pedagang toko kelontong maupun pedagang sayur keliling.
Salah seorang tukang ojek Pasar Induk Among Tani Batu, Ridwan mengaku kunjungan tengkulak tak bisa diharapkan. Sebab, mereka kebanyakan menggunakan kendaraan pribadi. Meski saat ini nyaris semua orang juga sudah menggunakan kendaraan pribadi.
Namun, kunjungan dari rumah tangga masih tetap potensial membuka peluang penggunaan jasa ojek. Pria asal Desa Sumberejo, Kecamatan Batu itu mengaku pendapatannya terus merosot. Bahkan jika dibandingkan dengan kondisi di pasar rekolasi dulu.
“Rata-rata penghasilan harian sebelum pembangunan pasar baru ini masih mencapai Rp 100 ribu. Termasuk saat relokasi pasar ke Stadion Gelora Brantas dulu,” terangnya. Dia mengaku bertahan karena tak punya pilihan lain.
Hal yang sama dialami tukang ojek lainnya, Abdul Wahid. Dia juga masih konsisten berangkat pukul 05.00-16.30. Alasan lain sepinya pengguna jasa ojek menurutnya juga karena konstruksi pasar yang menyediakan banyak pintu masuk dan keluar.
Sehingga titik penjemputan menjadi tidak terpusat. Pria berusia 78 tahun itu menyampaikan sejauh ini tak ada tarif khusus yang dipatok untuk pelanggan. Pelanggan juga bisa tawar menawar tarif sesuai jauh atau dekatnya jarak pengantaran.
“Selama ini ini tarif kami mulai Rp 5-20 ribu saja,” ungkapnya. Menurutnya tarif tersebut masih bersaing dengan angkutan kota (angkot) dan ojek online (ojol). Dia berharap pemerintah berupaya mengarahkan kunjungan wisata ke pasar induk. (nj5/dre)
Editor : A. Nugroho