BATU - Pasar Wisata Songgoriti semakin sepi. Bukan hanya karena tidak ada pengunjung. Namun, juga lantaran minimnya pedagang. Seperti yang tampak kemarin (4/6). Pasar legendaris itu sepi mampring.
Tak ada satu pun pengunjung di sana. Jumlah kios yang beroperasi juga bisa dihitung jari. Ketua Paguyuban Pasar Wisata Songgoriti Sugeng Wibowo mengatakan tersisa 25 kios yang aktif berjualan. Itu pun tak setiap hari mereka buka.
Kebanyakan hanya aktif setiap akhir pekan saja khususnya Sabtu, Minggu dan hari libur. Sementara, total kios yang ada di sana mencapai 150 unit.
“Sisanya sudah lama gulung tikar,” ujarnya.
Sugeng mengatakan para pedagang kerap membuang barang jualannya karena busuk. Saking lamanya tak ada yang membeli. Namun, dia cukup maklum karena Wisata Songgoriti nyaris tak terurus. Daya tarik berupa candi dan pemandian air panas sudah tidak mampu mengangkat pamor wisata tersebut.
“Ini perlu peran pemerintah untuk rebranding. Misalnya dengan menambah ragam wahan permainan yang diikuti promosi secara masif,” imbuh pria 60 tahun itu.
Dia menilai Wisata Songgoriti masih sangat potensial untuk dikembangkan. Apalagi dengan keberadaan sejarah dan budaya yang kental di sana.
Sugeng menambahkan sebagian pedagang juga telah berpindah mata pencaharian. Ada yang banting setir menjadi petani hingga membuka toko kelontong di rumah. Beberapa kios yang bertahan di antaranya penjual oleh-oleh khas Kota Batu, buah, sayur, aneka keripik, kaos, berbagai perabotan rumah tangga, dan gerabah.
Salah seorang pedagang buah dan sayur, Sujinah, mengatakan hanya ada dua rombongan wisatawan pada libur panjang akhir pekan minggu lalu. Itu pun tak semua berbelanja.
“Kami harus teriak-teriak untuk memberi tahu kalau pasar ini masih beroperasi,” terang perempuan yang sudah berjualan sejak tahun 1988 itu.
Ibarat membeli gajah untuk mendapatkan ayam. Pedagang di sana lebih sering rugi daripada untung. Jangankan untung, untuk menutup biaya operasional saja tak cukup. Mulai listrik hingga perawatan kios.
“Kalau tidak punya kendaraan ya harus naik ojek untuk kesini. Ongkos pulang-perginya sebesar Rp 40 ribu,” pungkasnya.
(nj5/dre)
Editor : A. Nugroho