BATU - Omzet restoran di Kota Batu turun signifikan.
Penyebabnya yakni penurunan daya beli masyarakat.
Selain itu, perubahan gaya hidup juga menjadi salah satu faktor lainnya.
Penurunan omzet yang terjadi kini mencapai 30 persen.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Malang Raya Indra Setiyadi mengatakan itu dialami restoran dan kafe.
Namun, bisnis kafe cenderung lebih stabil.
Itu didukung perubahan gaya hidup masyarakat.
Terutama anak anak muda.
“Minat anak-anak muda untuk nongkrong di kafe masih tinggi,” ujarnya.
Penurunan omzet sudah dirasakannya sejak awal tahun ini.
Seiring munculnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBD dan APBN.
Sehingga, rapat atau seminar yang biasanya digelar di restoran kini sudah tak ada lagi.
Padahal, tahun-tahun sebelumnya konsumen dari instansi pemerintahan cukup bisa diandalkan untuk pemasukan.
“Kalau kafe cenderung masih bertahan,” bebernya.
Namun, pelaku bisnis kafe harus terus melakukan pematangan konsep.
Misalnya, mengusung konsep kafe tematik dengan ciri khas yang kuat.
Itu akan menjadi daya tarik terhadap konsumen.
Apalagi Kota Batu memiliki banyak spot yang bisa ditonjolkan.
Seperti view pemandangan alam dan pegunungan yang tidak dimiliki daerah lain.
Untuk itu, kafe-kafe yang mulai ditinggalkan pelanggannya perlu melakukan rebranding.
Selain itu, salah satu upaya untuk mendongkrak kunjungan adalah upaya promosi.
Terutama dengan memanfaatkan media sosial.
“Belakangan banyak muncul hidden gem tapi juga ramai. Itu karena peran promosinya sangat kuat,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho