Permintaan Sejumlah Komoditas Ekspor di Kota Batu Anjlok
Fajar Andre Setiawan• Rabu, 9 April 2025 | 17:18 WIB
Grafis dampak melemahnya rupiah.
Imbas Melemahnya Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS
BATU - Eksportir di Kota Batu mengeluhkan penurunan permintaan sejumlah komoditas.
Itu dampak dari melemah kan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS yang nyaris dialami semua negara.
Bahkan, ekspor tanaman hias mengalami penurunan hingga 80 persen.
Beberapa ekportir terpaksa sampai menurunkan harga jual untuk mempertahankan daya beli internasional tersebut.
Salah seorang eksportir tanaman hias Slamet Tri as Andryansyah sudah menurunkan harga jual sekitar 20-25 persen dari biasanya beberapa pekan terakhir.
Namun, itu masih belum efektif untuk mempertahankan daya beli.
Sejak mata uang dunia anjlok, termasuk yang dialami rupiah, ia hanya mendapatkan dua buyer saja dalam sebulan.
Padahal biasanya ada sepuluh buyer setiap bulannya.
Buyer-buyer kecil juga enggan melakukan pembelian.
Mereka lebih memilih untuk menunggu nilai tukar mata uang negaranya stabil.
Apa lagi mengingat tanaman hias merupakan kebutuhan sekunder.
Sebagai informasi, saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tembus Rp 17 ribu per dolar.
Itu sekaligus menjadi rekor nilai rupiah paling lemah dalam sejarah.
Pelemahan nilai tukar mata uang tersebut tak hanya dialami Indonesia saja.
Melainkan juga sejumlah negara lain.
Slamet sudah melakukan sejumlah upaya agar jumlah ekspor tetap stabil.
Di antaranya dengan melakukan upaya negosiasi untuk menyepakati ulang harga tanaman hias.
Sehingga, bisa jadi harga belinya tetap meski mata uang negara tujuan juga lemah.
“Misalnya, buyer Jepang mampu membeli ketika nilai tukar mata uang mereka berada di kisaran 135 Yen per dolar atau sekitar Rp 13.500. Maka kami menyepakati nilai tukarnya tetap untuk periode tertentu agar harga tetap terjangkau bagi mereka,” jelasnya.
Slamet mengatakan selama ini, transaksi kegiatan ekspor dilakukan dengan mengonversi mata uang ke dolar terlebih dahulu.
Itulah mengapa harga jual dan beli komoditas ekspor akan naik ketika dolar menguat.
Terpisah, Wali Kota Batu Nurochman mengaku optimistis hal itu bisa segera terlewati.
Dia bahkan terus berupaya melakukan penguatan dan peningkatan kualitas produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Tujuannya agar semakin banyak produk UMKM Kota Batu yang tembus pasar internasional.
Baru-baru ini dirinya membentuk forum ekspor untuk mewujudkan cita-citanya itu.
“Para UMKM yang sudah berhasil ekspor akan memberikan bimbing an UMKM lain,” ujarnya.
Baik dalam prosedur administratif maupun trik untuk menggaet pasar.
Dengan begitu, mereka akan belajar manajemen usaha agar bisa naik kelas.
“Kami akan kumpulkan pelaku UMKM untuk diberikan pelatihan bersama,” tuturnya.
Lebih lanjut, Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi, Usaha, Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumpe rindag) Kota Batu Yosi Hendrawan mengatakan tantangan terbesar ekspor di Kota Batu adalah pemenuhan permintaan pasar luar negeri dan standar kualitas.
Sebagai contoh, produk keripik olahan buah apel, nangka, dan sejenisnya harus benar-benar memenuhi standar dan kualifikasi pasar luar negeri.
“Ketersediaan bahan baku untuk memenuhi permintaan tersebut perlu manajemen khusus,” ungkapnya.
Dengan begitu, pemenuhan kebutuhan pasar internasi onal bisa dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Memperluas jaringan dengan mengikuti pameran di luar negeri juga cukup efektif memperluas pasar,” tan dasnya. (ori/dre)