BATU, RADAR BATU - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite menambah beban pengeluaran keluarga guru honorer di Kota Batu. Keterbatasan pasokan memaksa mereka beralih ke Pertamax yang lebih mahal. Akibatnya, anggaran transportasi membengkak dan mulai menggerus belanja kebutuhan pokok.
Mohammad Agam Afendy, guru honorer di Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, merasakan langsung dampaknya. Dalam kondisi normal, dia hanya membutuhkan sekitar Rp 38 ribu untuk mengisi penuh tangki sepeda motor lawasnya dengan Pertalite. Bahan bakar itu cukup untuk menunjang mobilitas mengajar selama tujuh hingga sepuluh hari.
Baca Juga: RSUD Karsa Husada Kota Batu Perjuangkan BPJS untuk Rehabilitasi Jantung
“Namun, kini pembelian Pertamax senilai Rp 40 ribu belum bisa membuat tangki motor saya terisi penuh,” ujarnya. Untuk menghindari antrean panjang, Agam biasanya mendatangi stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Desa Pesanggrahan setelah pukul 21.00. Pada jam tersebut, antrean mulai berkurang dengan waktu tunggu sekitar 10-15 menit.
Namun, strategi itu tak selalu berhasil. Beberapa kali setelah ikut mengantre, dia mendapati stok Pertalite sudah habis. Kondisi itulah yang membuatnya terpaksa membeli Pertamax. Beban serupa juga ditanggung istrinya, Syifa yang bekerja sebagai guru horoner di Desa Sidomulyo. Keduanya sama-sama membutuhkan kendaraan untuk mobilitas ke sekolah.
Baca Juga: Tersangka Korupsi Pasar Induk Among Tani Kota Batu Sebut Aliran Dana Rp 262 Juta Masih Didalami
Syifa mengandalkan sepeda motor matik keluaran 2014. Dalam kondisi normal, kebutuhan bensinnya berkisar Rp 38-39 ribu untuk pemakaian tujuh sampai delapan hari. Kelangkaan Pertalite membuat anggaran tersebut ikut meningkat. Sebab, ia pun harus beralih ke bahan bakar yang lebih mahal.
Kenaikan biaya transportasi yang dialami keduanya akhirnya berimbas pada pengeluaran rumah tangga. Di tengah harga kebutuhan pokok yang juga dirasakan semakin mahal, keluarga tersebut harus mengatur ulang anggaran agar kebutuhan harian tetap terpenuhi.
“Lumayan pengaruh ke sembako harian,” pungkas Syifa.
Editor : Fajar Andre Setiawan