Diskusi Bareng Pokja, Wali Kota Komitmen Jaga Lingkungan

Aditya Novrian • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 06:30 WIB
BERI PEMAPARAN: Wali Kota Batu Nurochman memberikan sambutan dalam kegiatan Sarasehan Pokja Peningkatan Status Kota Administratif di Gedung Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani pada 13 Oktober lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
BERI PEMAPARAN: Wali Kota Batu Nurochman memberikan sambutan dalam kegiatan Sarasehan Pokja Peningkatan Status Kota Administratif di Gedung Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani pada 13 Oktober lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Alih fungsi lahan, pemanfaatan kawasan hutan, hingga ancaman krisis air menjadi sorotan utama dalam sarasehan Kelompok Kerja (Pokja) Peningkatan Status Kota Administratif Batu di Gedung Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani kemarin (13/10). Forum itu menekankan pentingnya menjaga identitas Kota Bernuansa Desa di tengah perkembangan pariwisata dan modernisasi kota.

Sarasehan tersebut mengusung tema “Kota Bernuansa Desa, Bangkit Bersama Jaga Alam Raya untuk Mbatu Sae Berkelanjutan”. Kegiatan itu mempertemukan anggota Pokja dan sejumlah perangkat daerah Pemkot Batu. Forum tersebut diharapkan menghasilkan rekomendasi untuk mengawal arah pembangunan dan menjaga kelestarian lingkungan.

Ketua Panitia Sarasehan Pokja Peningkatan Status Kota Administratif Batu Sumiantoro menyebut, pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada perkembangan fisik kota. Pokja juga ingin memberikan masukan konkret kepada pemerintah daerah untuk merespons persoalan konservasi.

Baca Juga: Gubug Asape Batu, Tempat Makan Asapan dan Bakaran dengan Suasana Gubuk Tradisional

Menurut dia, tantangan ekologi di Kota Batu semakin kompleks. Persoalan alih fungsi lahan, pemanfaatan kawasan hutan, serta tarik-menarik kepentingan pariwisata komersial dan pelestarian alam perlu mendapat perhatian serius.

Ketua Presidium Pokja Peningkatan Status Kota Administratif Batu Andrek Prana menegaskan, konsep Kota Bernuansa Desa harus tetap menjadi ciri khas Batu. Pengembangan pariwisata, menurutnya, perlu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan penataan ruang yang berkelanjutan. “Pokja mempunyai keinginan, membuat Kota Batu wajahnya beda dengan daerah lain. Yakni dengan menjadikan alam sebagai pusat wisata namun juga keberlangsungan lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga: Fasilitas Cadillac F1 Diklaim Melebihi Mercedez, Begini Ujar Valtterri Botaz

Wali Kota Batu Nurochman mengapresiasi masukan dan kritik yang disampaikan Pokja maupun masyarakat. Dia menegaskan, Pemkot Batu terbuka terhadap berbagai koreksi dan saran untuk menjaga identitas serta keberlanjutan pembangunan daerah.

Nurochman, yang akrab disapa Cak Nur, menilai konsep Kota Bernuansa Desa tetap relevan, meski Kota Batu kini berkembang sebagai destinasi wisata berskala nasional hingga internasional. Sebab, sebagian besar masyarakat masih menggantungkan penghidupan pada sektor pertanian.

Baca Juga: Kapolres Baru Diminta Jaga Sinergi Pengamanan Kota

Tantangannya, kata dia, ialah mengembangkan potensi pertanian dan pariwisata dengan memanfaatkan teknologi tanpa mengorbankan kelestarian alam. Ancaman krisis lingkungan yang dapat memengaruhi ketersediaan air bersih juga menuntut komitmen bersama.

Sarasehan tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk merumuskan rekomendasi kebijakan yang mendukung perlindungan kawasan hutan. Selain itu, juga sekaligus bisa mengendalikan pemanfaatan ruang dan menjaga keberlanjutan pertanian.

Editor : Fajar Andre Setiawan
konservasi lingkungan pokja wali kota batu kota batu