BATU, RADAR BATU - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Kota Batu sejak awal Oktober menekan pendapatan pengemudi ojek online (ojol). Mereka harus merogoh kocek tambahan hingga Rp 24 ribu untuk mengisi tangki penuh. Sebab, mereka terpaksa beralih ke Pertamax.
Pengemudi ojol, Hendri Kurniawan mengatakan kapasitas tangki motornya mencapai empat liter. Jika menggunakan Pertalite, ia cukup mengeluarkan sekitar Rp 40 ribu untuk mengisi tangki penuh. Namun, ketika stok kosong, biaya pengisian dengan Pertamax membengkak menjadi sekitar Rp 64 ribu.
Baca Juga: Empat Musim Pertiwi Wakili Indonesia ke Oscar 2027, Kisah Pulang yang Tak Mudah
“Padahal selisih uang itu seharusnya bisa menjadi tambahan omzet harian saya,” keluhnya. Kondisi itu membuat Hendri mengubah kebiasaan mengisi BBM. Ia kini mencari SPBU begitu indikator bensin menunjukkan posisi separuh tangki. Ia bahkan pernah menyusuri sejumlah SPBU dari Kota Batu hingga Kota Malang, tapi tidak mendapatkan Pertalite.
Pilihan lainnya adalah membeli bensin eceran di warung dengan harga berkisar Rp 12 ribu hingga Rp 14 ribu per liter. Namun, harga tersebut juga menambah beban operasional pengemudi.
Baca Juga: 2 Tahun Turun, Jumlah Penderita Diabetes Naik Lagi
Selain biaya, kelangkaan Pertalite turut menyita waktu kerja. Imron, pengemudi ojol layanan antar makanan, mengatakan antrean pengisian BBM bisa mencapai 30 menit. Antrean panjang bahkan berpotensi mengganggu arus lalu lintas di sekitar SPBU. “Antre bisa sampai 30 menit. Bahkan, tumpukan antrean di SPBU lumayan bikin macet jalan raya,” ujarnya.
Untuk menghindari antrean pagi, Imron berusaha mengisi BBM sebelum pulang kerja, sekitar pukul 19.00-20.30. Namun, upaya itu tidak selalu berhasil. Pasalnya, sejumlah SPBU disebut membatasi layanan Pertalite pada malam hari. “Di atas jam setengah sembilan malam itu layanan Pertalite biasanya sudah ditutup. Alasannya sisa stok disisakan untuk besok pagi, jadi kita yang malam hari hanya boleh mengisi Pertamax,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan