BATU - Mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi musim penghujan mulai dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu. Upaya dilakukan melalui edukasi masyarakat, pelatihan di lingkungan pendidikan, pembersihan aliran sungai, hingga penyiagaan personel dan peralatan untuk merespons bencana.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan, mitigasi tidak hanya mengandalkan penanganan fisik. Peningkatan kapasitas masyarakat juga diperlukan. Tujuannya agar warga memahami potensi ancaman dan langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
Baca Juga: BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga 4 Meter di Perairan Selatan Jawa hingga Sumatra
Sepanjang 2026, BPBD melaksanakan sejumlah kegiatan peningkatan kapasitas. Di antaranya melalui Disaster Forum Akademi (DIFA) yang melibatkan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) desa dan kelurahan.
“Kami juga ada kegiatan bersama komunitas Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) dan forum anak melalui Bastana (Batu Sae Tanggap Bencana),” kata Gatot. Edukasi juga menyasar lingkungan pendidikan melalui pelatihan satuan pendidikan aman bencana bagi perwakilan guru sekolah dasar (SD) di Kecamatan Bumiaji dan Batu.
Baca Juga: Ada Banyak Tipe dengan Keunggulan yang Berbeda, Intip Jenis Studio di Bioskop CGV
Selain itu, BPBD memberikan pelatihan kepada perwakilan Palang Merah Remaja (PMR) dari sejumlah sekolah. Materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan peserta. Para guru mendapatkan edukasi mengenai kesiapan sekolah menghadapi bencana Termasuk kecukupan peralatan pendukung.
Sementara peserta PMR dibekali pengetahuan mengenai pertolongan pertama dan evakuasi korban. “Materinya kami sesuaikan. Misalnya kalau pesertanya guru, kami berikan edukasi tentang sekolah tanggap bencana, seperti peralatan di sekolahnya sudah memadai atau tidak,” ucap Gatot.
Baca Juga: Damai Lewat Mediasi, Pria Diduga Bawa Golok di GKPI Rajeg Tetap Jadi Tersangka
Mitigasi fisik dilakukan melalui kegiatan susur dan pembersihan sungai sejak akhir Mei hingga Agustus. Sejumlah lokasi yang menjadi sasaran di antaranya Coban Peteng, Pusung Lating, dan Sumber Darmis.
Pembersihan dilakukan dengan mengangkat pohon tumbang dan material yang berpotensi menghambat aliran air. Kegiatan tersebut bertujuan menjaga kelancaran aliran sungai ketika curah hujan meningkat. Hal itu juga sekaligus mengurangi potensi terbentuknya bendungan alami yang dapat memicu banjir.
Baca Juga: Tumpahan Solar Bikin Pengendara Motor Terjatuh di Jalan Bromo
Di sisi kesiapsiagaan, BPBD menyiagakan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) selama 24 jam. Kesiapan ini terutama diperlukan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi. Di antaranya tanah longsor, banjir, dan cuaca ekstrem saat musim hujan.
“Peralatan standar, misalnya cangkul, begitu sudah siap untuk penanganan awal jika dibutuhkan,” ujar Gatot. Jika penanganan memerlukan alat berat, BPBD telah berkoordinasi dengan instansi terkait. Koordinasi dilakukan sebagai persiapan agar dukungan dapat diberikan ketika dibutuhkan.
Baca Juga: Okupansi Hotel Batu Terancam Jeblok Bulan Ini
Penanganan pascabencana juga menjadi perhatian. Tim BPBD memiliki bidang rehabilitasi dan rekonstruksi yang menangani pendataan serta penanganan kerusakan fasilitas umum. Sementara, dampak terhadap rumah dan permukiman warga dikoordinasikan dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Batu.
Kepala BPBD Kota Batu Suwoko menyebut, sejak 1 Januari hingga 21 September 2026, terdapat 108 lokasi kejadian yang telah menjalani asesmen oleh Seksi Rehabilitasi dan Rekonstruksi. “Berdasarkan hasil asesmen, sebanyak 27 lokasi mendapatkan dukungan bantuan dari BPBD Kota Batu, 27 lokasi mendapatkan dukungan dari Disperkim, serta enam lokasi melaksanakan rehabilitasi secara mandiri,” ujarnya.
Baca Juga: Bus Persib U-18 Diserang di Rest Area Batang, Polisi Tangkap Satu Terduga Pelaku
Asesmen dilakukan untuk mendata dan mengidentifikasi kerusakan, memetakan kebutuhan, serta menentukan bentuk penanganan sesuai kondisi di lokasi terdampak. Hasilnya lantas menjadi dasar bagi penanganan dan pemulihan sarana maupun prasarana yang rusak.
Untuk kondisi darurat dengan dampak luas dan masif, pemerintah juga menyiapkan Belanja Tidak Terduga (BTT). Anggaran tersebut digunakan apabila penanganan mendesak diperlukan dan tidak dapat ditangani dengan sumber daya yang tersedia.
Editor : Fajar Andre Setiawan