BATU, RADAR BATU - Petani bunga potong di Kota Batu harus mempertaruhkan modal hingga Rp 1,6 juta setiap minggu. Suhu ekstrem kemarau berpotensi menurunkan produktivitas bunga. Dari lahan seluas 1.000 meter persegi, idealnya menghasilkan 1.000 tangkai bunga selama masa panen. Namun, sepanjang kemarau produksi bisa merosot menjadi 200 tangkai.
Kondisi tersebut dirasakan Rujianto, owner RJ Flower Dusun Santrean, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu. Dalam kondisi tanaman optimal, 1.000 meter persegi lahannya mampu menghasilkan sekitar 1.000 tangkai bunga dengan omzet hingga Rp 3 juta. “Cukup untuk menutup biaya operasional dan meraup untung,” katanya.
Baca Juga: Kasus Kecelakaan Kerja di Kota Batu Turun 77 Persen
Namun, hasil tersebut tidak selalu bisa dicapai. Ketika kondisi tanaman memburuk, produksi dapat turun hingga menjadi 200 tangkai. Dengan modal operasional yang tetap berjalan, hasil panen tersebut nyaris tidak mampu mengembalikan biaya yang telah dikeluarkan. “Dari 10 lahan, saya berisiko merugi,” tuturnya.
Sebanyak 10 lahan RJ Flower mengelola tiga jenis tanaman. Rinciannya, empat lahan bunga pikok, empat lahan bunga mawar, dan dua lahan khusus daun dekorasi. Risiko terbesar ada pada tanaman mawar. Satu siklus tanam membutuhkan waktu hingga satu tahun sebelum memasuki panen perdana.
Baca Juga: Perpres Ojol 2026, DPR Ingatkan Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab
Selama masa tersebut, Rujianto bersama enam pekerjanya harus terus merawat tanaman tanpa pemasukan dari lahan tersebut. Setelah mulai berbunga, mawar dapat dipanen setiap tiga hari. Namun, biaya produksi tetap menjadi tantangan. Terlebih harga pupuk dan kebutuhan tenaga kerja terus menjadi beban operasional.
Ninik, istri Rujianto mengatakan pupuk bersubsidi seperti Phonska dan urea tidak dapat mereka akses. Sebab, bunga potong bukan komoditas yang mendapat subsidi pemerintah. “Sebab, bunga bukan komoditas yang disubsidi pemerintah,” bebernya.
Baca Juga: DPRD Kota Batu Usulkan Perda Perlindungan Lingkungan
Kondisi itu membuat RJ Flower harus membeli pupuk nonsubsidi. Misalnya, nitrogen fosfor kalium (NPK) dan ZA. Tentu saja harganya lebih mahal. Mereka juga mulai menggunakan pupuk kandang. Pasalnya, ia menilai residu kimia pada lahan sudah terlalu tinggi. Penggunaan pupuk kandang jadi salah satu cara menekan biaya dan menjaga kualitas tanah.
Meski menghadapi risiko produksi dan biaya operasional, Rujianto dan Ninik tetap bertahan menggeluti usaha bunga potong yang dirintis sejak 2014. Hasil produksinya rutin dikirim ke sejumlah daerah, seperti Yogyakarta dan Bali. Selain itu, sekitar 20 gereja di Malang Raya menjadi pelanggan rutin yang menerima pasokan bunga setiap pekan.
Editor : Fajar Andre Setiawan