Kaper Z Serang Sayuran di Kota Batu, Biaya Perawatan Bengkak

Fajar Andre Setiawan • Dipublikasikan Minggu, 11 Oktober 2026 | 20:00 WIB
MERAWAT: Petani melakukan perawatan tanaman kol bunga agar tak terserang hama. (MUHAMMAD WAHIB ALI/RADAR BATU)
MERAWAT: Petani melakukan perawatan tanaman kol bunga agar tak terserang hama. (MUHAMMAD WAHIB ALI/RADAR BATU)
BATU, RADAR BATU - Serangan hama Kaper Z membuat petani sayur di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk pengendalian tanaman. Sejak Agustus, hama tersebut dinilai semakin sulit dibasmi. Sebab, obat yang selama ini diandalkan petani mulai tidak efektif.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kelurahan Sisir Sohib mengatakan, serangan Kaper Z menjadi persoalan baru bagi petani. Padahal, ketersediaan air pertanian masih cukup meski memasuki musim kemarau. Sejumlah bahan yang sebelumnya digunakan petani, seperti minyak nyong-nyong dan kapur barus, kini dinilai tidak lagi efektif.

Baca Juga: Data Kendaraan hingga Listrik di Kota Batu Direncanakan Terintegrasi

Petani kemudian mencoba minyak serai merah sebagai campuran untuk penyiraman tanaman. Harga bahan tersebut cukup mahal. Sohib menyebut minyak serai merah dibanderol sekitar Rp 460 ribu per liter di Universitas Brawijaya dan Rp 240 ribu per liter melalui penjualan daring.

Petani juga menggunakan sejumlah obat alternatif. “Di antaranya Endur yang mencapai Rp 280 ribu per 10 mililiter serta Ortin seharga Rp 80-100 ribu per 100 gram,” ujarnya.

Baca Juga: Warga Kota Batu Bisa Sanggah Peringkat Desil

Petani kol bunga Ngadiono membenarkan serangan Kaper Z semakin sulit dikendalikan. Menurut dia, minyak serai merah tidak bisa menjadi satu-satunya solusi. Ia mengaku harus mengombinasikan dengan obat lain. “Sayamenggunakan Metindo untuk mencegah telur hama menetas,” ucapnya.

Sementara Endur dan Saporo digunakan untuk membasmi ulat yang sudah menyerang tanaman. Sebelumnya, obat bermerek Bropea sempat banyak digunakan petani sekitar dua bulan lalu. Namun menurut Ngadiono, efektivitasnya kini menurun. “Karena hama sudah kebal, kini obat viral itu tidak mempan,” jelasnya.

Baca Juga: Jaringan Bioskop Cinépolis Hadirkan Sala de Arte di 6 Kota Indonesia, Bekerja Sama dengan KlikFilm

Dia menggambarkan Kaper Z berbentuk menyerupai ngengat berwarna hijau. Serangannya dapat merusak tanaman, terutama kol bunga, brokoli, sawi daging, dan kailan. Kondisi tersebut membuat Ngadiono lebih banyak mengandalkan obat kimia untuk pencegahan maupun pembasmian.

Di sisi lain, petani sayur di Sisir juga menghadapi persoalan harga jual yang fluktuatif. Saat produksi melimpah, harga komoditas turun. Sebaliknya, harga melonjak ketika pasokan menipis. Sohib mengatakan kondisi tersebut semakin berat karena komoditas sayuran tidak mendapat subsidi pupuk seperti bawang merah dan cabai. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
kaper z sayuran hama kota batu