BATU, RADAR BATU – Antrean panjang kendaraan mengular di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 54.653.35 Jalan Panglima Sudirman, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, kemarin (8/10). Gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM) membuat stok di SPBU tersebut sempat kosong selama sekitar delapan jam.
Pengawas SPBU Sutikno mengatakan, antrean pembeli terjadi hampir setiap hari dalam sepekan terakhir. Kondisi itu dipicu keterlambatan kedatangan truk tangki pemasok dari Pertamina. “Pengiriman stok bahan bakar setiap hari,” tuturnya.
Baca Juga: Jalan Hasanuddin Kota Batu Bakal Dibuka Kembali Akhir Oktober
Namun, waktu kedatangan pasokan tidak menentu. Seperti kemarin, misalnya, truk tangki baru tiba sekitar pukul 08.00. Padahal, seluruh stok BBM di tangki penyimpanan SPBU telah habis sejak tengah malam.
Kondisi tersebut membuat pengendara harus menunggu hingga pasokan kembali tersedia. Antrean bahkan meluber ke area jalan sekitar SPBU dan berpotensi mengganggu arus lalu lintas. Sutikno menyebut, jatah pengiriman Pertalite saat ini mencapai 16 ribu liter per hari.
Baca Juga: Data Digital Ikut Pengaruhi Desil Warga Kota Batu
Sementara, Solar dan Pertamax masing-masing mendapat pasokan 8.000 liter per hari. Namun, stok tersebut disebut cepat habis sejak gangguan pasokan terjadi sepekan terakhir. Menurut Sutikno, kondisi serupa juga dirasakan sejumlah SPBU lain.
Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Edy Sumartono mengatur ikut mengatur antrean kendaraan. “Kami mengatur lalu lintas demi memastikan pengguna jalan raya lainnya tidak ikut terhambat,” katanya.
Baca Juga: 186 Warga Kota Batu Dicoret dari Penerima Bansos
Dampak antrean panjang dirasakan langsung pengendara. Sugiono, misalnya, harus menuntun sepeda motornya dari arah Desa Sumberejo karena membutuhkan BBM. Dia tiba di SPBU sekitar pukul 07.00 dan baru bisa mengisi bahan bakar sekitar pukul 09.30.
Waktu tunggu sekitar dua setengah jam itu membuat rencana perjalanannya menuju Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, berantakan. “Waktu saya sudah habis tersita di jalanan,” tandasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan