Tiga Mata Air Gimbo Kota Batu Berhenti Mengalir

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 15:00 WIB
INSPEKSI MENDADAK: Anggota Komisi B DPRD Kota Batu meninjau pembangunan di PT Esa Suwardhana Thani di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji pada 22 September lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
INSPEKSI MENDADAK: Anggota Komisi B DPRD Kota Batu meninjau pembangunan di PT Esa Suwardhana Thani di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji pada 22 September lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU – Tiga sumber mata air warga Kampung Gimbo, Dusun Jurang Kuali, Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, disebut berhenti mengalir.

Warga mengaitkan perubahan tersebut dengan aktivitas pengeboran sumur PT Esa Suwardhana Thani yang dimulai pada 2023.

Ketiga sumber itu adalah Janitri, Goa Jepang, dan Mbah To. Perwakilan warga Kampung Gimbo Neno Pratama mengatakan, kondisi ketiganya berbeda dibanding sebelum aktivitas pengeboran berlangsung.

Baca Juga: Warga Gimbo Kota Batu Tagih Empat Komitmen PT Esa

“Ternyata benar, pas kita survei tiga sumber mati total. Menurut warga, kondisinya berbeda sebelum aktivitas pengeboran PT Esa dimulai pada 2023,” kata Neno.

Menurut dia, sebelumnya ketiga sumber masih mengalir meski memasuki musim kemarau. Warga mulai merasakan dampaknya pada 2025. Aliran air kemudian berhenti hingga memengaruhi pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Warga Gimbo Tagih Empat Komitmen PT Esa

Kondisi tersebut membuat warga harus mengatur kembali penggunaan air. Pasokan yang tersisa diprioritaskan untuk kebutuhan konsumsi dan domestik.

Sementara kebutuhan pertanian harus dikurangi. Sejumlah lahan disebut tidak lagi digarap karena keterbatasan air.

Baca Juga: Gibran Tanggapi Putusan MK soal Ijazah SMA: Kalau Nggak Lulus, Mana Bisa Kuliah

“Sekarang untuk pertanian kita ngangsu (mengangkut air manual) pakai galon,” ujarnya.

Warga menyebut PT Esa telah memberikan bantuan berupa tandon air.

Namun, bantuan itu dinilai belum menjawab persoalan utama karena tidak mengembalikan ketersediaan sumber air.

Baca Juga: Jokowi Temui Prabowo di Kertanegara Bersamaan Sidang Putusan MK soal Ijazah Gibran

Bantuan tersebut baru direalisasikan pada 2026 setelah muncul penolakan terbuka dari masyarakat. Ketika dilakukan sidak bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu, tandon itu disebut dalam kondisi kosong.

Persoalan tersebut kemudian dibawa warga ke DPRD Kota Batu. Setelah rapat dengar pendapat (hearing) pada awal September, warga bersama dewan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pembangunan.

Baca Juga: Syarat Pendidikan Gibran Jadi Sorotan MK, KPU Disinggung soal Verifikasi

Dalam sidak, warga juga mempersoalkan titik koordinat sumur bor pertama yang disebut tidak sesuai dengan izin perusahaan.

Selain itu, penggunaan tiang pancang untuk struktur bangunan dinilai berpotensi mengganggu lapisan batuan akuifer dan struktur tanah bawah permukaan.

Baca Juga: Bandung World Cinema, Nama Rangkaian dari Festival Film Jakarta World Cinema 2026 di Bandung

Warga kini meminta aktivitas pengeboran tambahan dihentikan. Mereka juga meminta uji forensik terhadap struktur tanah untuk mengetahui kemungkinan dampak pembangunan terhadap sumber air.

Selain itu, warga meminta perusahaan mengeluarkan alat bor dan alat berat setelah solusi alternatif sumber air disepakati bersama. Mereka juga meminta kejelasan pemanfaatan air sebesar 10 persen untuk kebutuhan masyarakat setempat.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film atau Series yang Dibintangi oleh Pevita Pearce

Ketua Komisi B DPRD Kota Batu Asmadi mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Batu melakukan uji forensik lingkungan dan struktur tanah.

Kajian independen dinilai diperlukan untuk menguji kondisi lingkungan dan kemungkinan hubungan aktivitas pembangunan dengan berhentinya aliran mata air.

Dikonfirmasi mengenai persoalan tersebut, perwakilan PT Esa Suwardhana Thani Deddy Febrianto belum memberikan penjelasan rinci.

“Maaf saya belum punya hak menjawab, masih ditangani manajemen. Saat ini masih dalam pantauan manajemen,” ujarnya. 

 

Editor : Fajar Andre Setiawan
sumber air air sumberbrantas