Peternak Sapi di Kota Batu Mengalami Krisis Pakan Hijau

Fajar Andre Setiawan • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 18:00 WIB
SAPI PERAH: Pakan hijau untuk sapi perah kini terbatas akibat kemarau panjang. (MUHAMMAD WAHIB ALI/RADAR BATU)
SAPI PERAH: Pakan hijau untuk sapi perah kini terbatas akibat kemarau panjang. (MUHAMMAD WAHIB ALI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Kemarau membuat peternak sapi perah di Dusun Dresel, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu, kesulitan mendapatkan pakan hijau. Kondisi itu bahkan membuat sebagian peternak terancam menjual anakan sapi untuk memenuhi kebutuhan pakan induknya. Kesulitan mencari rumput mulai dirasakan sejak kemarau datang pada Juni lalu.

Yasin, salah satu peternak mengatakan sembilan ekor sapi miliknya membutuhkan sekitar 30 ikat rumput setiap pekan. Dengan harga Rp 10 ribu per ikat, kebutuhan pakan hijau tambahan mencapai sedikitnya Rp 1,2 juta per bulan. “Dari lahan sendiri, saya cuma memperoleh dua ikat suket (rumput) per hari, jauh dari cukup untuk ternak saya,” tuturnya.

Baca Juga: Angkot Malang Kejepit Gara-Gara Trans Jatim, Sopir Ngaku Pendapatan Terjun Bebas

Keterbatasan pasokan diperparah dengan semakin sempitnya lahan untuk mencari rumput. Yasin masih beruntung karena kawasan hutan di sekitar permukiman dapat menjadi tumpuan mencari pakan. Dengan begitu, dia belum sampai menjual anakan sapi untuk memenuhi kebutuhan pakan induknya. Namun, praktik itu wajar dilakukan peternak.

Selain rumput, peternak juga harus membeli pakan tambahan berupa konsentrat dan polar. Harga konsentrat mencapai Rp 225 ribu per sak, sedangkan polar Rp 250 ribu per sak. Masing-masing kemasan berisi 50 kilogram. “Kebutuhannya 10 sak tiap 10 hari,” tandasnya.

Baca Juga: H-1 Konser Pita Kita, Ini Informasi Lengkap Penukaran Tiketnya

Kesulitan serupa dialami Faqih, peternak yang memiliki 11 ekor sapi perah. Enam ekor di antaranya merupakan sapi produktif penghasil susu. Untuk mencukupi kebutuhan pakan, Faqih mengandalkan rumput hasil mencari sendiri di kawasan hutan. Sebagian ia membeli dari sejumlah wilayah, seperti Jombang, Pakisaji, dan Turen.

“Kalau rumput di sekitar Kota Batu mulai menipis, saya baru membeli seperti sekarang,” ungkapnya. Setiap hari faqih membeli 10 ikat rumput seharga Rp 10 ribu per ikat. Rumput tersebut akan dicampur dengan dua ikat hasil mencari sendiri. Faqih mengatakan rumput gajah yang biasanya ditanam di kawasan hutan kini sulit tumbuh.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Kota Batu 29 September: Berkabut Dini Hari, Suhu Puncak 24 Derajat Menjelang Siang

Kondisi tersebut membuatnya beralih memanfaatkan rumput dari tanaman jagung dan tebu sebagai pakan ternak. Untuk dapat memanfaatkan lahan hutan, dia membayar Rp 50 ribu per tahun kepada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Oro-Oro Ombo. Selain mencari pakan, dia juga turut berperan menjaga kawasan hutan tersebut.

Editor : Fajar Andre Setiawan
peternak sapi perah Batu Krisis makanan kota batu sapi perah