Lalat Buah Bikin Omzet Petani Stroberi di Kota Batu Jeblok

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 17:00 WIB
SERANGAN HAMA: Petani stroberi di Desa Pandanrejo menyortir buah yang terserang lalat buah kemarin (28/9). (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)
SERANGAN HAMA: Petani stroberi di Desa Pandanrejo menyortir buah yang terserang lalat buah kemarin (28/9). (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)

BUMIAJI, RADAR BATU - Serangan lalat buah membuat petani stroberi di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, harus menerima penurunan hasil panen. Buah yang seharusnya segar menjadi busuk dan tidak layak konsumsi. Kondisi itu tentu menekan omzet petani.

Wasdik, salah satu petani stroberi mengatakan saat kondisi buah normal, dia bisa memperoleh omzet sekitar Rp 3 juta per bulan. Namun, pendapatan bulan ini diperkirakan turun menjadi sekitar Rp 2 juta.

Baca Juga: Angkot Malang Kejepit Gara-Gara Trans Jatim, Sopir Ngaku Pendapatan Terjun Bebas

“Bulan ini perkiraan hanya dapat sekitar Rp 2 juta. Karena banyak buah yang tidak layak konsumsi,” kata dia kemarin (28/9). Wasdik memiliki lahan seluas sekitar 100 meter persegi. Selama ini ia bekerja sama dengan salah satu destinasi wisata petik stroberi di desanya.

Selain lalat buah, suhu yang terlalu tinggi turut menghambat pertumbuhan tanaman. Ukuran stroberi yang biasanya mencapai diameter 1-3 sentimeter kini banyak yang kurang dari 1 sentimeter. Meski masih bisa dikonsumsi, ukuran mini tidak memenuhi standar jual.

Baca Juga: H-1 Konser Pita Kita, Ini Informasi Lengkap Penukaran Tiketnya

Sebagian hasil panen akhirnya harus diolah agar tidak terbuang. “Ada yang kami proses menjadi sari buah stroberi. Namun, ada orang yang benar-benar suka stroberi masih mau membelinya,” ujarnya.

Menurut Wasdik, stroberi dapat tumbuh optimal saat mendapat paparan matahari yang cukup. Namun, tetap harus didukung suhu udara dingin. Kondisi kemarau ekstrem justru membuat perawatan tanaman semakin sulit.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Kota Batu 29 September: Berkabut Dini Hari, Suhu Puncak 24 Derajat Menjelang Siang

Perawatan stroberi juga membutuhkan konsistensi. Setelah panen, tanaman harus diberi pupuk setiap dua pekan. Penyemprotan untuk mencegah penyakit juga dilakukan dengan interval serupa. Jika salah satu tahapan terlewat, tanaman lebih rentan terserang penyakit.

Stroberi merupakan salah satu komoditas khas Kota Batu. Produksinya bahkan sempat meningkat dari 179,95 ton pada 2024 menjadi 182,11 ton pada 2025. Namun, sejak awal 2026 petani menghadapi sejumlah kendala yang meningkatkan risiko gagal panen.

Kondisi tersebut membuat sebagian petani memilih beralih ke komoditas lain, seperti sayuran. Dampaknya terlihat di lingkungan Lumbung Stroberi. Jumlah petani yang bertahan menyusut dari sekitar 40 orang pada tahun lalu menjadi sekitar 30 orang saat ini. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
Petani Stoberi Stroberi Kota Batu Lalat buah kota batu