BATU, RADAR BATU - Sebanyak delapan kasus demam berdarah dengue (DBD) tercatat di Kota Batu sepanjang Januari hingga September 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien merupakan anak-anak.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat tidak ada kematian akibat DBD selama periode tersebut. Kendati demikian, kelompok anak tetap menjadi perhatian karena berisiko mengalami kondisi lebih berat.
Baca Juga: Kasus Nihil, Chikungunya Tetap Diwaspadai di Kota Batu
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu dr Icang Sarrazin mengatakan, anak-anak tetap perlu mendapat perhatian dalam pengendalian DBD.
Sistem imun yang belum sempurna dan aktivitas di luar rumah menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terpapar nyamuk Aedes aegypti.
Baca Juga: Penerima BLT dari Desa di Kota Batu Anjlok 80 Persen
“Penanganan pasien DBD fokus mengatasi kehilangan cairan plasma dan pencegahan terjadinya shock akibat kebocoran plasma,” ujarnya.
Icang mengatakan, gejala DBD pada anak dan orang dewasa pada dasarnya serupa. Namun, gejala pada anak terkadang terlihat lebih ringan sehingga dapat menyerupai penyakit lain.
Baca Juga: Akses Permodalan UMKM di Kota Batu Terganjal BI Checking
Pada anak, gejala dapat berupa demam, ruam, mudah lelah, dan rewel. Orang tua perlu lebih waspada ketika kondisi anak menunjukkan tanda bahaya.
Di antaranya nyeri perut hebat, muntah berulang, serta menolak makan atau minum. Tubuh pucat, dingin atau lembap, serta perdarahan seperti mimisan dan gusi berdarah juga perlu diperhatikan.
Baca Juga: Setahun, Volume Sampah di Kota Batu Berkurang 64 Persen
Penurunan frekuensi buang air kecil menjadi tanda lain yang perlu diwaspadai. Jika anak tidak buang air kecil sekitar empat hingga enam jam disertai kondisi yang memburuk, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan.
Risiko keparahan juga dapat meningkat pada anak dengan riwayat infeksi dengue sebelumnya, penyakit penyerta, atau status gizi kurang baik.
Dengan delapan kasus dan tiga di antaranya anak, kewaspadaan keluarga tetap diperlukan. Pencegahan dari lingkungan rumah menjadi bagian penting untuk menjaga kasus tidak berkembang lebih luas.
Editor : Fajar Andre Setiawan