BATU, RADAR BATU - Tiga anak di Kota Batu terkonfirmasi demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari-September 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat total delapan kasus DBD pada periode tersebut dengan nihil kematian. Penanganan difokuskan pada pencegahan dehidrasi dan syok akibat kebocoran plasma.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu dr Icang Sarrazin mengatakan anak-anak tetap menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian. Sistem imun yang belum sempurna dan aktivitas di luar rumah menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko terpapar nyamuk Aedes Aegypti.
Baca Juga: Kasus Nihil, Chikungunya Tetap Diwaspadai di Kota Batu
“Penanganan pasien DBD fokus mengatasi kehilangan cairan plasma dan pencegahan terjadinya shock akibat kebocoran plasma,” ujarnya. Menurut Icang, gejala utama DBD pada anak dan orang dewasa pada dasarnya serupa. Namun, gejala pada anak dapat tampak lebih ringan sehingga terkadang menyerupai penyakit lain.
Pada anak, gejala dapat berupa demam, ruam, mudah lelah, dan rewel. Sedangkan, pada orang dewasa, gejala dapat berupa demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot atau sendi, mual, muntah, hingga perdarahan. Orang tua perlu lebih waspada ketika muncul tanda bahaya. Di antaranya nyeri perut hebat, muntah berulang, dan menolak makan atau minum.
Baca Juga: Penerima BLT dari Desa di Kota Batu Anjlok 80 Persen
Selain itu, tubuh pucat, dingin atau lembap, serta perdarahan seperti mimisan dan gusi berdarah juga merupakan tanda bahaya. Penurunan frekuensi buang air kecil juga perlu menjadi perhatian. Jika anak tidak buang air kecil selama sekitar 4-6 jam disertai kondisi yang memburuk, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan.
“Penanganan DBD dewasa dan anak-anak sama-sama bersifat suportif dan simtomatis, yakni dengan mengatasi gejala dan mencegah dehidrasi,” kata Icang. Penanganan awal meliputi istirahat cukup, pengendalian demam, serta pemenuhan kebutuhan cairan. Asupan makanan bergizi juga tetap diperlukan untuk menjaga kondisi tubuh selama masa pemulihan.
Baca Juga: Akses Permodalan UMKM di Kota Batu Terganjal BI Checking
Risiko keparahan pada anak dapat meningkat pada kondisi tertentu. Di antaranya riwayat infeksi dengue sebelumnya, penyakit penyerta, serta status gizi yang kurang baik. Karena itu, orang tua perlu segera mencari pertolongan ketika muncul tanda bahaya.
Di sisi pencegahan, pengendalian tempat berkembang biak nyamuk menjadi langkah utama. Kepala Puskesmas Bumiaji dr Kartini Kristalina mengatakan pihaknya terus menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. “Kami terus menggencarkan PSN 3M Plus sesuai dengan program dari pemerintah,” ujarnya.
Baca Juga: Setahun, Volume Sampah di Kota Batu Berkurang 64 Persen
Gerakan tersebut meliputi menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, dan pot. Selanjutnya menutup wadah penyimpanan air yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk, seperti drum dan tangki.
Langkah berikutnya adalah mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air hujan. Ban, botol plastik, dan wadah lain yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk perlu diperhatikan.
Sementara unsur “Plus” mencakup berbagai tindakan tambahan untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk. Salah satunya menggunakan losion antinyamuk. Kartini mengatakan upaya itu terus dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bumiaji yang meliputi sembilan desa di Kecamatan Bumiaji.
Baca Juga: Kasus Influenza A di DIY Naik jadi 24, Dinkes Pastikan Masih Terkendali
Edukasi juga diarahkan agar masyarakat tidak hanya bergerak ketika sudah ada kasus. Selain PSN, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga perlu diperkuat. Masyarakat diimbau menjaga pola makan bergizi serta mencuci tangan sebelum makan.
Temuan tiga kasus pada anak menunjukkan pengendalian DBD tetap perlu diperhatikan. Kendati, jumlah kasus secara keseluruhan masih delapan dengan nihil kematian. Pencegahan dari lingkungan rumah dan kewaspadaan orang tua terhadap tanda bahaya menjadi bagian penting dalam mencegah kondisi pasien berkembang lebih berat.
Editor : Fajar Andre Setiawan