Kasus Nihil, Chikungunya Tetap Diwaspadai di Kota Batu

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 20:00 WIB
DBD: Waspada demam tinggi berkelanjutan pada anak. (Freepik)
DBD: Waspada demam tinggi berkelanjutan pada anak. (Freepik)

BATU, RADAR BATU - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mencatat belum ada kasus chikungunya sepanjang Januari-September 2026. Meski begitu, masyarakat tetap diminta waspada. Sebab, nyamuk penular penyakit tersebut masih berpotensi berkembang. Terutama di daerah genangan air.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu dr Icang Sarrazin mengatakan, chikungunya ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus. Dua jenis nyamuk itu juga jadi vektor demam berdarah dengue (DBD).

Baca Juga: Waspada Angin Kencang di Jawa Timur, Ini 7 Hal yang Harus Dilakukan Sebagai Langkah Antisipasi

Karena itu, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu terus diterapkan untuk menekan risiko penularan. Secara umum, chikungunya dapat sembuh tanpa rawat inap dalam waktu sekitar dua minggu. “Penanganannya lebih banyak berupa istirahat dan pengobatan untuk meredakan gejala,” ungkapnya.

Namun, beberapa kondisi pasien dapat memerlukan perawatan di rumah sakit. Sebab, penyakit tersebut berasal dari virus. Sehingga, harus dilawan oleh antibodi dari dalam tubuh pasien. Pejabat eselon III B Pemkot Batu itu mengatakan, penanganan pasien umumnya berfokus pada pengobatan simtomatik, terutama untuk meredakan nyeri sendi.

Baca Juga: Heboh Kabar Pertalite Naik Jadi Rp13.500, Pertamina dan ESDM Buru-Buru Klarifikasi

Gejala chikungunya juga hampir menyerupai DBD. Di antaranya demam tinggi di atas 38,5 derajat Celsius, menggigil, dan wajah kemerahan. Pembeda yang umum dirasakan penderita chikungunya adalah nyeri sendi. Nyeri dapat muncul pada sejumlah bagian tubuh, termasuk pergelangan kaki dan tangan.

Untuk pencegahan, Dinkes mendorong masyarakat rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus. Caranya dengan menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, dan pot tanaman. Selanjutnya, menutup tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, seperti drum dan tangki penyimpanan air.

Masyarakat juga diminta mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air hujan, seperti ban dan botol plastik. Sementara itu, unsur “plus” mencakup berbagai langkah tambahan untuk mencegah gigitan nyamuk. Salah satunya menggunakan losion antinyamuk. “Upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M Plus rutin dilakukan,” imbuhnya.

Editor : Fajar Andre Setiawan
dbd aedes aegepty dinkes kota batu