JUNREJO - Produksi tempe di Wisata Edukasi Kampung Tempe, Desa Beji, Kecamatan Junrejo, terus menyusut dalam tiga tahun terakhir. Penurunannya hampir separo akibat permintaan yang melemah dan kenaikan harga bahan baku. Namun, wisata edukasi pembuatan tempe masih terus berjalan normal hingga kemarin (22/9).
Kondisi tersebut salah satunya dirasakan Sadik, perajin tempe setempat. Sebelumnya ia mampu mengolah 80-100 kilogram kedelai per hari. Kini, produksinya hanya sekitar 40 kilogram. Menurut Sadik, penurunan penjualan mulai terasa setelah pasar tradisional dibongkar. “Sebelum itu, saya bisa menjual 100-120 papan tempe per hari,” ungkapnya.
Kini jumlahnya turun menjadi sekitar 50 papan. Harga bahan baku juga semakin menekan produksi. Sekitar tiga tahun lalu, harga kedelai masih Rp 6 ribu per kilogram. Saat ini harganya telah mencapai Rp11 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut berdampak pada harga jual. Tempe yang sebelumnya dibanderol Rp 14 ribu per papan kini mencapai Rp 20 ribu.
Baca Juga: Perajin Tempe di Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu Terjepit Biaya Produksi
Ukurannya pun menyesuaikan dengan biaya produksi. Proses pembuatan tempe membutuhkan waktu sekitar tiga hari. Tahapannya dimulai dari perebusan kedelai hingga fermentasi sebelum siap dipasarkan. Tempe produksi Sadik umumnya dijual ke Pasar Induk Among Tani. Namun, penurunan permintaan membuat volume produksinya ikut berkurang.
Di tengah tekanan produksi, aktivitas Wisata Edukasi Kampung Tempe tetap berjalan. Kepala Desa Beji Deny Cahyono mengatakan, kegiatan wisata masih aktif. Terutama di Dusun Krajan Sae dan Karang Jambe. Pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan tempe di rumah-rumah produksi.
Baca Juga: Cobek Khas Kota Batu Tetap Dicari meski Penjualan Sepi
“Selain wisatawan umum, rombongan pelajar juga kerap datang untuk kegiatan outing class,” ujarnya. Deny mengaku selalu berupaya mendukung operasional wisata edukasi tersebut melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) tahun sebelumnya. Tujuannya agar potensi Kampung Tempe dapat terus eksis.
Deny menyebut Desa Beji menjadi salah satu sentra tempe yang telah bertahan sejak era kolonial Belanda. Karena itu, keberadaan wisata edukasi diharapkan tidak hanya menjadi ruang promosi. Namun, juga membantu menjaga keberlanjutan tradisi produksi tempe di Desa Beji.
Editor : Fajar Andre Setiawan