25 Perupa Arsipkan Folklor Kota Batu lewat Pameran Seni Instalasi Interaktif

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 16:00 WIB
MEDIA INTERAKTIF: Salah seorang pengunjung menikmati salah satu instalasi dalam pameran Panen Tiga Jalan di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu kemarin (21/9). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
MEDIA INTERAKTIF: Salah seorang pengunjung menikmati salah satu instalasi dalam pameran Panen Tiga Jalan di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu kemarin (21/9). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BATU - Sebanyak 25 perupa mengolah cerita rakyat dan ingatan kolektif warga Kota Batu menjadi karya seni instalasi interaktif. Karya tersebut dipamerkan dalam Panen Tiga Jalan: Temuan, Ramuan, Jamuan di sebuah vila Jalan Terusan Bejo, Kelurahan Sisir, hingga 24 September mendatang.

Pameran yang digagas kolektif seni Pemuda Bandel bersama mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) itu berlangsung sejak 12 September. Seluruh ruang vila disulap menjadi area pameran dengan konsep imersif dan interaktif.

Pengunjung tidak hanya melihat karya. Mereka diajak menyusuri tujuh ruang dengan atmosfer berbeda melalui permainan cahaya, tata suara, sensor, hingga patung dan instalasi yang dapat bergerak merespons kehadiran manusia.

Baca Juga: 22 Tahun Pembunuhan Munir, Dalang Tak Kunjung Jelas

Berbagai cerita dan persoalan sosial dihadirkan dalam pameran itu. Mulai narasi kasus pembunuhan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib yang hingga kini belum tuntas, hingga dilema petani lokal dalam menjaga hasil panen di tengah tekanan ekologis dan modernisasi.

Perupa Taufiq Rochman mengatakan, karya-karya itu merupakan hasil riset lapangan selama tiga bulan di Kota Batu. Riset difokuskan pada pendokumentasian dan pengarsipan folklor lokal. Cerita tutur warga, mitos, hingga ingatan kolektif yang belum banyak dikenal menjadi bahan eksplorasi para perupa.

Cerita itu kemudian diterjemahkan ke dalam karya visual dan pengalaman ruang. Taufiq menjelaskan, tujuh ruang dalam pameran membawa pengunjung menyusuri narasi yang berbeda. Di antaranya Redam Alam, Pagar Kasat Mata, Matsari Box dengan konsep mystery box, Bayang-Bayang Misteri, Wingit, dan Ruang Duka.

Baca Juga: Aktivis Ziarah Makam Munir Peringati 21 Tahun Kematian

Ruang Duka mengeksplorasi kontrol sosial dan emosi masyarakat lokal. Sementara ruang terakhir diisi karya mahasiswa. Pemilihan vila sebagai lokasi pameran juga bukan tanpa alasan. Karakter ruang yang terbagi dalam sejumlah ruangan dinilai memberi keleluasaan bagi perupa untuk merancang karya sesuai karakter masing-masing tempat.

“Kalau galeri konvensional kan konsepnya seperti aula, jadi kita kesulitan kalau misal merespons jadi per ruangan,” tuturnya. Menurut Taufiq, pemanfaatan ruang nonkonvensional dapat memberi warna baru bagi ekosistem pameran seni di Kota Batu.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Hak Asasi Manusia (HAM) perupa Universitas Brawijaya (UB) kota batu karya seni