Rp 500 Juta Belum Cukup Menarik Minat Petani Muda, Dewan Minta Akar Masalah Regenerasi Diatasi

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 14:00 WIB
PERTANIAN: Petani bawang merah di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo menyiram lahan miliknya beberapa hari lalu. (RAMYZARD RAFSANJANI/RADAR BATU)
PERTANIAN: Petani bawang merah di Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo menyiram lahan miliknya beberapa hari lalu. (RAMYZARD RAFSANJANI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Pemkot Batu mengalokasikan Rp 500 juta untuk pembinaan dan sertifikasi petani muda tahun ini. Namun, program tersebut dinilai belum cukup efektif menarik generasi muda ke sektor pertanian. Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Dewi Kartika menilai pemerintah perlu membenahi akar persoalan. Terutama rendahnya daya tarik ekonomi profesi petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan pembinaan petani muda telah dilakukan sejak 2024. Program diawali melalui Abang Tani Kelas untuk mendorong kelompok tani agar lebih inovatif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Kami bermaksud mengubah pola pikir mereka bahwa bertani merupakan bisnis yang berorientasi pasar global,” ujarnya. Program tersebut kemudian dikembangkan menjadi Petani Muda Berdaya. Fokusnya tidak hanya meningkatkan kemampuan budidaya. Namun, juga membekali petani dengan pengetahuan dari hulu hingga hilir.

Baca Juga: Erupsi Dini Hari Tadi, Gunung Ili Lewotolok Semburkan Abu Setinggi 600 Meter - Radar Batu

Tahun ini, pembinaan diarahkan agar petani muda yang telah mendapat pelatihan mampu menularkan pengetahuan kepada kelompok tani lain di wilayahnya. Distan-KP mencatat sekitar 300 petani telah mendapat pembinaan melalui berbagai program tersebut. “Harapan kami bisa getok tular ke petani lainnya supaya manfaatnya bisa merata,” kata Hendry.

Materi pembinaan mencakup penerapan teknologi pertanian modern. Salah satunya smart farming berbasis Internet of Things (IoT) yang telah diuji coba di Desa Sumberbrantas dan Pandanrejo. Teknologi itu memungkinkan sejumlah aktivitas pertanian dilakukan lebih efisien. Penggunaan perangkat jarak jauh hingga drone juga diperkenalkan.

Teknologi modern digunakan untuk membantu petani mengelola lahan dengan keterbatasan tenaga kerja. Selain teknologi, petani muda dibekali kemampuan bisnis. Mereka diarahkan menghitung biaya dan keuntungan, membaca tren pasar, memilih komoditas bernilai ekonomi, serta memahami standar produk untuk masuk pasar ritel modern.

Baca Juga: Menyusul Sore: Istri dari Masa Depan, Empat Musim Pertiwi Jadi Perwakilan Indonesia di Oscar 2027 - Radar Batu

“Tahun ini kami menganggarkan sekitar Rp 500 juta. Rinciannya, Rp200 juta untuk pelatihan petani muda berdaya dan Rp 300 juta untuk sertifikasi kompetensi petani,” jelas Hendry. Untuk sertifikasi, Distan-KP mengirim petani muda mengikuti pelatihan dan uji kompetensi di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Lawang.

Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kompetensi petani secara bertahap. Pemkot juga mencoba menarik minat generasi muda melalui jalur pendidikan. Beasiswa dalam Program 1.000 Sarjana diarahkan untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi warga yang memilih jurusan pertanian.

Namun, intervensi berupa pelatihan dan pendidikan belum menyentuh persoalan utama. Dewi mengatakan pemerintah perlu tahu alasan ekonomi yang membuat generasi muda enggan menjadi petani. “Mungkin dengan menghilangkan sistem tengkulak yang menyebabkan penjualan hasil pertanian kurang menjanjikan mereka bisa tertarik,” ucapnya.

Baca Juga: South Park Singgung GTA VI di Episode Terbarunya, Malah Jadi Harapan Warga Amerika - Radar Batu

Itulah mengapa banyak anak muda yang tidak mau menjadi petani karena hasilnya sedikit. Menurut Dewi, persoalan regenerasi tidak cukup diselesaikan dengan membekali petani muda keterampilan baru. Ketika hasil pertanian tetap sulit memberikan pendapatan yang menarik, minat generasi muda untuk masuk ke sektor tersebut akan tetap rendah.

Karena itu, selain pembinaan, pemerintah perlu memperkuat ekosistem ekonomi petani. Salah satunya melalui kemudahan akses pasar. Tujuannya agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak. Dewi juga mendukung pemberian beasiswa bagi generasi muda yang mengambil pendidikan pertanian.

Menurutnya, pendidikan dapat memperkenalkan teknologi dan metode pertanian yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. “Subsidi pupuk, obat-obatan, dan sarana prasarana pertanian juga bisa dimaksimalkan untuk mendukung regenerasi petani,” katanya.

Baca Juga: BSFF ke-9 Digelar di Kota Batu, 40 Tenant Kuliner Ramaikan Festival - Radar Batu

Kebijakan tersebut dinilai penting karena regenerasi petani bukan hanya persoalan menambah jumlah anak muda yang turun ke sawah. Generasi baru juga harus memiliki kemampuan mengelola pertanian sebagai usaha yang produktif.

Dengan alokasi Rp 500 juta dan sekitar 300 petani yang telah dibina, Pemkot Batu telah membangun fondasi pembinaan. Namun, efektivitasnya akan sangat ditentukan kemampuan pemerintah membuat profesi petani menjanjikan secara ekonomi bagi generasi muda.

Editor : Fajar Andre Setiawan
dprd pertanian petani muda pemkot batu petani