BUMIAJI, RADAR BATU - Serangan larva kumbang atau ulat tanah membuat harga kentang di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, anjlok menjadi Rp 3-3,5 ribu per kilogram. Normalnya, kentang dibanderol harga Rp 10-11 ribu per kilogram di tingkat petani.
Nyamin, salah satu petani setempat mengatakan serangan hama juga menekan produktivitas. Hasil panen turun menjadi kurang dari 15 ton dari potensi sebesar 16 ton di lahan seluas 1,2 hektare. “Ulatnya menyerang kentang yang ukurannya besar. Kalau kentangnya kecil, ulatnya tidak mau,” ujarnya.
Kentang yang terserang hama dijual dengan harga jauh lebih rendah. Jika tidak laku, hasil panen hanya dimanfaatkan kembali sebagai bibit. Nyamin mengaku sudah mencoba berbagai obat dan vitamin untuk membasmi hama. Namun, belum ada yang dinilai efektif.
Baca Juga: Menyambut Festival Film Indonesia 2026: Ini Daftar Film Pemenang Piala Citra Sejak 2020 - Radar Batu
Keluhan juga telah disampaikan kepada pihak yang dianggap lebih ahli. Sayangnya, belum ada arahan penanganan yang jelas. Biaya perawatan tanaman juga cukup tinggi. Saat musim penghujan, penyemprotan bisa dilakukan 25-26 kali dalam tiga bulan. Sementara pada musim kemarau, minimal 15 kali pengobatan diperlukan.
Pada musim kemarau, kebutuhan air meningkat. Tanaman harus disiram setiap 2-3 hari sekali. Untuk menjaga produktivitas, Nyamin menerapkan pola rotasi tanaman hingga tiga kali setahun. Panen terakhir tanaman wortel dilakukan Februari lalu. “Kalau kentang terus malah sulit. Jadi saya sengaja selang-seling,” pungkas petani asal Ponorogo itu.
Editor : Fajar Andre Setiawan