BATU, RADAR BATU - Persiapan keberangkatan calon jemaah haji (CJH) dari Kota Batu mulai berjalan meski verifikasi belum final. Dari 137 CJH yang masuk daftar urut porsi, sebanyak 95 orang telah mengurus paspor. Bahkan, 28 lainnya sudah mulai mengurus bio visa.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Batu Basuki Rachmat mengatakan, CJH yang telah terverifikasi mulai melengkapi sejumlah administrasi. Di antaranya paspor dan bio visa.
“Calon jemaah yang sudah mengurus paspor ada 95 orang dan 28 orang sudah mengurus bio visa,” ujarnya. Pengurusan bio visa mensyaratkan kepemilikan paspor. Selain itu, CJH perlu menyiapkan bukti setoran awal dan surat pendaftaran pergi haji (SPPH).
Baca Juga: Cegah PMK, Peternak Diminta Rutin Vaksin - Radar Batu
Menurut Basuki, proses tersebut masih dapat dilakukan hingga hasil verifikasi terakhir ditetapkan. Pengurusan administrasi biasanya dilakukan sekitar tiga bulan sebelum keberangkatan.
Sementara itu, biaya perjalanan ibadah haji (Bipih) 2027 belum ditetapkan. Sebagai gambaran, Bipih tahun ini sekitar Rp 54,19 juta per jamaah dari total biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) Rp 87,4 juta.
Selisih Rp 33,21 juta berasal dari nilai manfaat yang dikelola Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH). Nilai tersebut menjadi bagian dari skema pembiayaan haji. Kantor Kemenhaj Batu juga mulai berkoordinasi dengan kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) dan CJH.
Baca Juga: Anggrek Rp100 Juta Ada di Batu, Black Mamba Jadi Buruan Kolektor - Radar Batu
Koordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) dan pihak imigrasi turut dilakukan untuk menyiapkan keberangkatan. Khusus dengan Dinkes, pembahasan mencakup persiapan jemaah risiko tinggi dan tenaga kesehatan yang akan mendampingi selama di Tanah Suci.
Sebanyak 137 CJH yang masuk verifikasi tahap kedua tersebut telah mendaftar sekitar Desember 2012 hingga Januari 2013. Mereka telah menunggu sekitar 13 tahun untuk mendapat giliran berangkat.
Perubahan sistem pembagian kuota turut memengaruhi masa tunggu. Jika sebelumnya kuota dibagi berdasarkan jumlah penduduk muslim, kini antrean ditentukan berdasarkan daftar tunggu.
Jawa Timur saat ini berada di urutan pertama dalam daftar tunggu. Kuotanya meningkat dari sekitar 33 ribu menjadi 42 ribu jemaah. Secara nasional, masa tunggu rata-rata mencapai sekitar 26 tahun.
Editor : Fajar Andre Setiawan