BATU, RADAR BATU - Anggrek Black Mamba pernah dibeli kolektor dengan harga mencapai Rp100 juta dalam gelaran Batu Shining Orchids Week (BSOW). Tahun ini, varietas tersebut kembali menjadi bagian dari deretan anggrek bernilai tinggi yang dipamerkan dalam BSOW 2026 di Balai Kota Batu.
Pameran dan bursa tahunan itu tak hanya menyedot perhatian pencinta tanaman hias. Sejumlah varietas dengan harga fantastis turut menjadi daya tarik, di antaranya Nong Alsagoff Gold dan Black Mamba. Nilai jualnya dipengaruhi kelangkaan, keunikan hasil persilangan, hingga kemampuan tanaman untuk dikembangbiakkan.
Kelangkaan dan Cara Pembiakan Menentukan Harga Anggrek
Kelangkaan dan keterbatasan pembiakan menjadi faktor utama yang membuat harga sejumlah varietas anggrek melambung. Juri BSOW 2026 Warter Agustim menjelaskan, nilai ekonomi tanaman juga dipengaruhi keunikan hasil persilangan serta prestasi dalam kompetisi.
“Terutama untuk jenis yang tidak bisa dikloning melalui kultur jaringan dan hanya bisa diperbanyak lewat keiki atau anakan samping,” ujarnya.
Baca Juga: 50 Tenant Ramaikan Pameran Anggrek Nasional di Balai Kota Among Tani Batu
Kondisi tersebut membuat proses memperbanyak tanaman membutuhkan waktu dan tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama seperti varietas yang mudah dikultur jaringan. Semakin terbatas ketersediaannya, nilai koleksi anggrek tertentu pun dapat semakin tinggi.
Nong Alsagoff Gold Dibanderol Rp2,5 Juta per Pot
Nong Alsagoff Gold menjadi salah satu anggrek dengan harga tinggi yang ditawarkan dalam BSOW 2026. Anggrek hasil persilangan asal Singapura itu dibanderol hingga Rp2,5 juta untuk satu pot berukuran kecil.
Harga tersebut dapat meningkat hingga puluhan juta rupiah apabila ukuran tanaman semakin besar dan jumlah rumpunnya bertambah. Karena itu, harga sebuah tanaman tidak hanya ditentukan jenisnya, tetapi juga ukuran dan kondisi koleksi yang ditawarkan.
Black Mamba Pernah Mencapai Rp100 Juta
Black Mamba menjadi contoh lain bagaimana hasil persilangan dapat memiliki nilai ekonomi tinggi. Anggrek hasil persilangan Black Spider karya pembudidaya lokal tersebut sempat menjadi perhatian dalam gelaran sebelumnya.
Baca Juga: Reseller Anggrek di Kota Batu Raup Rp 10 Juta per Bulan dari Live Streaming
Beberapa rumpun Black Mamba bahkan pernah dibeli kolektor dengan nilai mencapai Rp100 juta. Nilai tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagian kolektor, anggrek bukan sekadar tanaman hias, tetapi juga menjadi bagian dari koleksi dengan karakter dan tingkat kelangkaan tertentu.
Dendrobium Curly Jadi Kekuatan Lokal Malang Raya
Selain varietas bernilai tinggi dari luar daerah, pembudidaya Malang Raya dan Kota Batu juga memiliki kekuatan pada Dendrobium tipe keriting atau curly. Indukan tanaman tersebut mayoritas berasal dari Papua dan menjadi salah satu varietas yang dikembangkan pembudidaya lokal.
Antusiasme kolektor dari luar daerah juga ikut terdorong aktivitas para tenant di media sosial. Warter mengatakan, sejumlah pengunjung sengaja datang karena telah mengikuti koleksi maupun aktivitas tenant tertentu melalui platform digital.
“Pengunjung dari luar kota banyak yang datang karena mengikuti unggahan tenant favorit mereka di media sosial,” paparnya.
Editor : Aditya Novrian