BATU, RADAR BATU – Target penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Kota Batu menghadapi persoalan lain. Tenaga kerja lokal disebut masih kalah bersaing dengan pencari kerja dari luar daerah karena perbedaan pengalaman dan kompetensi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Batu. Pemerintah menilai persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan dengan menambah lapangan kerja.
Kepala Disnaker Kota Batu M. Forkan mengatakan sejumlah perusahaan masih memilih tenaga kerja dari luar daerah. Salah satu pertimbangannya adalah pengalaman dan keterampilan yang dinilai lebih sesuai kebutuhan perusahaan.
Baca Juga: ULD Kota Batu Ditarget Beroperasi Tahun Depan - Radar Batu
Kondisi itu membuat peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal menjadi penting. Disnaker kemudian memperkuat program pelatihan dan sertifikasi agar pencari kerja Kota Batu memiliki keahlian yang lebih spesifik.
“Sekarang penerapannya tidak sekadar link and match antara kejuruan dan jenis pekerjaan, tetapi lebih menekankan pada keahlian spesifik serta kebutuhan riil perusahaan,” kata Forkan.
Pada 2026, Disnaker menyiapkan Rp1,1 miliar untuk berbagai pelatihan kerja. Materinya disesuaikan dengan kebutuhan sektor yang berkembang di Kota Batu.
Baca Juga: 35 Atlet Kota Batu Masuk Usia Pensiun pada Porprov 2027 - Radar Batu
Di antaranya digital marketing berbasis AI, K3, commercial make up, dan barista. Pelatihan juga diarahkan pada keterampilan pariwisata seperti pastry, tata boga, dan pelayanan hotel.
Langkah tersebut berkaitan dengan target Pemkot Batu menurunkan TPT menjadi 3,03 persen tahun ini. Realisasi TPT pada 2025 masih mencapai 3,53 persen.
Namun, pelatihan tidak akan banyak berarti jika tidak diikuti penyerapan tenaga kerja. Karena itu, Disnaker menggandeng Kadin dan PHRI untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan.
Baca Juga: Bukan Cuma Buket, Ini Toko Bunga di Batu yang Jadi Pemasok Florist Se-Jawa Timur - Radar Batu
“Dengan bekal kompetensi dan sertifikasi yang memadai, kami berharap perusahaan semakin banyak memanfaatkan tenaga kerja lokal,” tegas Forkan.
Persoalan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pasokan dan kebutuhan tenaga kerja di Kota Batu. Di satu sisi, pemerintah memiliki pencari kerja lokal.
Baca Juga: Konami Merilis Trailer Terbaru dari Game Silent Hill: Townfall - Radar Batu
Di sisi lain, perusahaan membutuhkan kompetensi tertentu yang belum seluruhnya dimiliki tenaga kerja setempat.
Karena itu, keberhasilan target TPT 3,03 persen tidak cukup diukur dari jumlah pelatihan. Ukuran yang lebih penting adalah berapa banyak peserta yang benar-benar mendapatkan pekerjaan setelah mengikuti pelatihan.
Editor : Fajar Andre Setiawan