BATU, RADAR BATU - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) ditarget turun menjadi 3,03 persen tahun ini. Target itu cukup agresif. Sebab, realisasi TPT 2025 masih berada di angka 3,53 persen. Untuk mengejarnya, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) mengandalkan pelatihan dan sertifikasi kompetensi. Tujuannya agar tenaga kerja lokal lebih sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
Target tahun ini lebih rendah dibanding capaian 2025. Tahun lalu, Pemkot Batu menargetkan TPT berada pada rentang 3,89 hingga 3,38 persen. Namun, realisasinya masih 3,53 persen. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo mengatakan capaian TPT 2026 belum dapat diketahui. Pasalnya, proses pendataan masih berlangsung.
Herlina mengaku saat ini tengah melaksanakan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas). Survei tersebut dilakukan untuk memutakhirkan data ketenagakerjaan. “Bulan ini kami masih fokus pada proses pendataan Sakernas,” ujarnya.
Baca Juga: Demo Besar 27 Agustus di DPR, Berbagai Aliansi Bawa Tuntutan Berbeda - Radar Batu
Pendataan dilakukan secara langsung kepada rumah tangga sampel. Seluruh anggota keluarga didata untuk memotret kondisi ketenagakerjaan secara lebih akurat. Data tersebut nantinya digunakan untuk mengestimasi jumlah pengangguran berdasarkan kelompok umur, pendidikan, hingga karakteristik pekerjaan.
Sembari menunggu angka resmi, Pemkot Batu mulai memperkuat intervensi dari sisi kualitas tenaga kerja. Kepala Disnaker Kota Batu M. Forkan mengatakan pelatihan menjadi salah satu strategi utama untuk meningkatkan daya saing pencari kerja. “Kami optimalkan melalui kegiatan pelatihan kerja,” tegasnya.
Pada 2026, Disnaker mengalokasikan Rp 1,1 miliar untuk berbagai program pelatihan. Anggarannya dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Jenis pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Di antaranya digital marketing berbasis kecerdasan buatan (AI), keselamatan dan kesehatan kerja (K3), commercial make up, dan barista.
Baca Juga: Konami Merilis Trailer Terbaru dari Game Silent Hill: Townfall - Radar Batu
Peserta diwajibkan ber-KTP Kota Batu, tidak sedang bekerja, terdaftar sebagai pencari kerja, dan memiliki kartu kuning atau AK-1. Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta juga mendapat pengakuan kompetensi. Itu penting sebagai bekal memasuki pasar kerja. Forkan mengatakan kebutuhan tenaga kerja di Kota Batu banyak berkaitan dengan pariwisata.
Sektor tersebut sesuai dengan karakter ekonomi daerah. Hotel, restoran, jasa, hingga industri kreatif membutuhkan tenaga dengan keterampilan yang lebih spesifik. Karena itu, Disnaker juga memetakan kebutuhan kompetensi lain. Misalnya, seperti pastry, tata boga, pelayanan hotel, dan keterampilan pendukung sektor pariwisata.
Namun, pelatihan saja belum tentu langsung menurunkan pengangguran. Persoalan berikutnya adalah memastikan lulusan pelatihan terserap oleh perusahaan. Untuk itu, Disnaker memperkuat koordinasi dengan dunia usaha melalui Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).
Baca Juga: 35 Atlet Kota Batu Masuk Usia Pensiun pada Porprov 2027 - Radar Batu
Kerja sama diarahkan untuk mempercepat penyebaran informasi lowongan. Selain itu, sekaligus mempertemukan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan. Strategi juga diarahkan pada pendidikan vokasi. Menurut Forkan, pendekatan link and match tidak cukup hanya memasangkan jurusan dengan jenis pekerjaan.
Pendidikan harus menghasilkan keahlian spesifik yang benar-benar dibutuhkan perusahaan. “Sekarang penerapannya tidak sekadar link and match antara kejuruan dan jenis pekerjaan, tetapi lebih menekankan pada keahlian spesifik serta kebutuhan riil perusahaan,” katanya.
Di lapangan, serapan tenaga kerja lokal masih menghadapi persoalan. Sejumlah perusahaan disebut masih memilih tenaga kerja dari luar daerah. Alasannya, lantaran SDM luar kota itu dinilai memiliki pengalaman atau kompetensi yang lebih sesuai.
Baca Juga: 5 Item Wajib biar Outfit Liburan ke Batu Tetap Santai tapi Anti Menggigil - Radar Batu
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi target penurunan TPT. Artinya, persoalan pengangguran Kota Batu tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja. Namun, juga kesenjangan keterampilan antara pencari kerja lokal dan kebutuhan perusahaan.
Forkan berharap peningkatan pelatihan dan sertifikasi dapat mempersempit kesenjangan tersebut. Dengan kompetensi yang lebih spesifik, tenaga kerja lokal diharapkan mampu bersaing tanpa harus kalah dari pencari kerja luar daerah.
Baca Juga: Bukan Cuma Buket, Ini Toko Bunga di Batu yang Jadi Pemasok Florist Se-Jawa Timur - Radar Batu
“Kami terus berupaya meningkatkan kualitas tenaga kerja asal Kota Batu,” tegasnya. Dengan bekal kompetensi dan sertifikasi yang memadai, masih kata Forkan, ia berharap perusahaan semakin banyak memanfaatkan tenaga kerja lokal.
Target TPT 3,03 persen kini masih menunggu pembuktian melalui Sakernas. Pelatihan menjadi salah satu modal. Namun, keberhasilannya bergantung pada seberapa besar lulusan pelatihan benar-benar terserap pasar kerja.
Editor : Fajar Andre Setiawan