Susur Sungai di Kota Batu Sisir 109 Titik Rawan Bendung Alam

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 18:00 WIB
SUSUR SUNGAI: BPBD Kota Batu bersama tim gabungan merampungkan pembersihan hulu DAS Brantas. Langkah itu sebagai antisipasi penyumbatan material pohon tumbang dan longsor pemicu banjir bandang. (BPBD KOTA BATU FOR RADAR BATU)
SUSUR SUNGAI: BPBD Kota Batu bersama tim gabungan merampungkan pembersihan hulu DAS Brantas. Langkah itu sebagai antisipasi penyumbatan material pohon tumbang dan longsor pemicu banjir bandang. (BPBD KOTA BATU FOR RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Upaya mencegah banjir bandang di Kota Batu terus digeber. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu menyisir 109 titik rawan penyumbatan di sepanjang alur sungai hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Kegiatan mitigasi tersebut berlangsung sejak Juni dan tuntas pada 12 Agustus lalu. Penyisiran dilakukan untuk menemukan material yang berpotensi menyumbat aliran sungai.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Batu Gatot Noegroho mengatakan tim gabungan memetakan sekaligus membersihkan sejumlah titik yang berpotensi menjadi lokasi terbentuknya bendung alam. “Dari rangkaian kegiatan yang kita mulai sejak Juni dan selesai 12 Agustus kemarin, tim berhasil mengidentifikasi dan membersihkan 109 titik rawan,” terangnya.

Dari 109 titik tersebut, temuan tersebar di enam kawasan sungai. Di Sumber Darmi, misalnya, ditemukan 16 titik kayu tumbang dan satu titik longsor. Kawasan tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya pernah diterjang banjir bandang. Peristiwa itu bahkan menyebabkan pipa jaringan air bersih Perumdam Among Tirto putus.

Baca Juga: 70 Siswa SR Asal Kabupaten Malang Masih Tunggu Lampu Hijau Pusat - Radar Batu

Sementara itu, penyisiran Sungai Krecek menemukan 27 titik rawan. Temuannya meliputi 18 kayu melintang, satu rumpun bambu, tiga titik longsor, serta tujuh aliran sungai baru. Di aliran Glagahwangi, tim menemukan 26 titik rawan. Rinciannya delapan kayu tumbang, 10 rumpun bambu, satu titik longsor, enam aliran baru, serta tumpukan sampah pertanian.

Temuan lainnya berada di kawasan Sumber Brantas Pohon 8. Sebanyak 10 titik rawan ditemukan, termasuk empat titik aliran yang terdampak longsoran. Sedangkan, di kawasan Coban Petung dan Pusung Lading, masing-masing ditemukan 28 titik rawan penyumbatan.

Gatot mengatakan pembersihan tersebut menjadi langkah preventif menghadapi musim penghujan. Terlebih, Kota Batu memiliki pengalaman buruk terkait banjir bandang Bulukerto pada November 2021. “Langkah preventif ini diambil berkaca pada rekam jejak tragedi kelam banjir bandang Bulukerto pada November 2021 silam,” terangnya.

Baca Juga: APBD 2027 Didorong Fokus ke Desa, Beasiswa 1.000 Sarjana hingga Pertanian Tetap Diprioritaskan - Radar Batu

Banjir bandang tersebut dipicu akumulasi material kayu yang berasal dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Arjuno-Welirang pada 2019. Material kayu yang mati dan tumbang kemudian terbawa arus hujan. Tumpukan tersebut membentuk bendung alam di kawasan Pusung Lading.

Saat hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan hulu, bendung alam itu akhirnya jebol. Air bah bercampur material kayu dan lumpur kemudian menerjang permukiman warga. “Mitigasi ini sifatnya menyeluruh. Pohon-pohon yang melintang kita potong-potong agar tidak menghalangi arus air, lalu disisihkan ke pinggiran sungai,” lanjut Gatot.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Mitigasi Bencana Pencegahan Banjir Banjir Bandang bpbd kota batu sungai brantas