Partisipasi Angkatan Kerja Perempuan di Kota Batu Naik 12 Persen

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 18:00 WIB
PEKERJA PEREMPUAN: Salah seorang barista perempuan melayani pengunjung di sebuah coffeeshop kemarin (12/8). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
PEKERJA PEREMPUAN: Salah seorang barista perempuan melayani pengunjung di sebuah coffeeshop kemarin (12/8). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di Kota Batu melonjak menjadi 72,57 persen. Angka tersebut naik 12,92 persen dibanding 2024 yang berada di level 59,65 persen. Kenaikan ini menunjukkan semakin banyak perempuan masuk pasar kerja. Namun, tak seluruhnya didorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu mencatat peningkatan partisipasi perempuan turut mempersempit kesenjangan dengan laki-laki. Hal itu tampak dari TPAK laki-laki saat ini mencapai 88,45 persen. Kondisi tersebut ikut mendorong Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Kota Batu 2025 turun jadi 0,163. Angkanya jauh di bawah rata-rata Jatim sebesar 0,329.

Kepala BPS Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo mengatakan indikator pasar tenaga kerja memiliki pengaruh besar dalam penghitungan IKG. Kenaikan TPAK perempuan membuat jarak partisipasi kerja antara laki-laki dan perempuan semakin menyempit. “Kenaikan TPAK perempuan mempersempit gap partisipasi kerja antargender,” terangnya.

Baca Juga: 14 Posisi Guru PJOK SD Negeri di Kota Batu Masih Kosong - Radar Batu

Namun, tingginya partisipasi perempuan di pasar kerja juga tidak bisa dilepaskan dari tekanan sosial dan ekonomi. Komnas Perlindungan Perempuan dan Anak (PA) Kota Batu menilai tingginya angka perceraian menjadi salah satu faktor yang mendorong perempuan masuk dunia kerja.

Rudianto, perwakilan Komnas PA Kota Batu mengatakan sebagian perempuan harus mengambil alih peran sebagai pencari nafkah setelah perceraian. Kondisi tersebut semakin berat ketika perceraian berkaitan dengan persoalan ekonomi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Banyak perempuan kini memilih bekerja karena keharusan menghidupi diri sendiri setelah lepas dari ikatan pernikahan yang sering kali diwarnai kekerasan atau faktor ekonomi,” beber Rudi. Di sisi lain, bekerja juga mulai dipandang sebagai bentuk kemandirian finansial. Terutama di kalangan perempuan muda.

Baca Juga: Awang-Awang Sky Lounge Batu, Nikmati City Light 360 Derajat Tanpa Tiket Masuk - Radar Batu

Penghasilan sendiri dianggap dapat menjadi jaminan keamanan ekonomi baik sebelum maupun ketika berumah tangga. Pergeseran pandangan tersebut turut membuat stigma terhadap perempuan yang bekerja semakin berkurang. Bahkan, kondisi ekonomi membuat pasangan laki-laki lebih terbuka terhadap keputusan perempuan untuk ikut mencari nafkah.

Rudi menilai jika tekanan ekonomi terus meningkat, keterlibatan perempuan di sektor pekerjaan fisik juga berpotensi semakin besar. Mulai dari pengemudi ojek online hingga pekerja bangunan. Peningkatan partisipasi kerja perempuan perlu dibarengi perlindungan hukum, upah yang adil, dan pemenuhan hak yang setara di tempat kerja.

Editor : Fajar Andre Setiawan
BPS Kota Batu TPAK Perempuan Indeks Ketimpangan Gender Perempuan Bekerja ketenagakerjaan