BATU – Sejumlah pemerintah desa di Kota Batu mulai mengubah pola penyelenggaraan karnaval kemerdekaan. Jika sebelumnya digelar setiap tahun, kini beberapa desa memilih mengadakan karnaval dua tahun sekali untuk mengurangi beban biaya warga sekaligus mengatasi kemacetan.
Kepala Desa Tulungrejo Suliono mengatakan keputusan tersebut menjadi jalan tengah antara keinginan masyarakat menghadirkan hiburan dan kemampuan ekonomi warga. "Supaya persiapan lebih matang dan masyarakat tidak terbebani kalau harus iuran setiap tahun," ujarnya.
Menurut Suliono, konsep karnaval tetap memadukan atraksi budaya dengan sound system. Namun, fungsi sound hanya sebagai pengiring pertunjukan, bukan menjadi daya tarik utama. "Sound tetap ada, tetapi fungsinya mengiringi pertunjukan agar suasana tidak sepi, bukan untuk adu horeg yang berlebihan," katanya.
Baca Juga: Pemkot Batu Minta Karnaval Kemerdekaan Angkat Budaya Lokal, Bukan Adu Sound Horeg - Radar Batu
Selain menekan biaya masyarakat, sistem dua tahunan juga memberi waktu lebih panjang bagi warga untuk menyiapkan konsep pertunjukan yang lebih berkualitas.
Kebijakan serupa diterapkan Desa Bulukerto. Kepala Desa Bulukerto Suhermawan menyebut pola tersebut juga efektif mengurangi kepadatan kendaraan di jalur wisata Kecamatan Bumiaji saat musim karnaval.
Editor : Fajar Andre Setiawan