BATU, RADAR BATU - Praktik parkir liar, getok tarif, hingga tidak diberikannya karcis parkir dinilai bukan sekadar pelanggaran retribusi. Akademisi Pariwisata Universitas Brawijaya, Faidlal Rahman, menilai persoalan tersebut dapat merusak citra Kota Batu sebagai destinasi wisata.
Menurutnya, pelayanan parkir merupakan pengalaman pertama yang langsung dirasakan wisatawan ketika berkunjung.
"Praktik yang dianggap tidak adil itu berpotensi menurunkan tingkat kepuasan wisatawan. Ujungnya bisa merusak loyalitas dan menekan minat kunjungan ulang," ujarnya.
Ia menjelaskan pengalaman negatif wisatawan kini sangat mudah menyebar melalui media sosial atau electronic word of mouth (eWOM).
Apabila kasus serupa terus berulang, publik akan menilai lemahnya pengawasan pemerintah terhadap tata kelola parkir.
Faidlal menegaskan yang dipertaruhkan bukan lagi nominal uang parkir, melainkan reputasi Kota Batu yang selama ini dibangun sebagai kota wisata.
Editor : Fajar Andre Setiawan