Pakar Sebut Alih Fungsi Lahan Jadi Penyebab Utama Debit Mata Air Kota Batu Terus Menyusut

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 15:00 WIB
MITIGASI BENCANA: Wali Kota Batu Nurochman dan Tim BPBD Kota Batu melakukan susur Sungai Krecek, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji kemarin (31/3).
MITIGASI BENCANA: Wali Kota Batu Nurochman dan Tim BPBD Kota Batu melakukan susur Sungai Krecek, Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu.

BATU, RADAR BATU – Penurunan debit mata air di Kota Batu dinilai bukan sekadar dipengaruhi musim kemarau. Akademisi menyebut alih fungsi lahan di kawasan hulu menjadi penyebab utama berkurangnya cadangan air tanah.

Pakar Hukum Lingkungan dan Hukum Adat Universitas Widyagama Malang Purnawan Dwikora Negara menjelaskan pada dekade 1990-an kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas memiliki sekitar 500 titik mata air. Namun jumlah tersebut terus menyusut seiring berkurangnya kawasan konservasi.

"Daya resap tanah menurun akibat alih fungsi lahan. Akibatnya kemampuan kawasan hulu menyimpan air juga ikut berkurang," katanya.

Baca Juga: Warga Ambil Alih Penyerahan PSU Tiga Perumahan ke Pemkot Batu - Radar Batu

Selain itu, meningkatnya penggunaan sumur bor berkapasitas besar untuk kebutuhan usaha maupun pertanian juga dinilai mempercepat penurunan cadangan air tanah.

Menurut Purnawan, tanpa perlindungan kawasan resapan dan pengendalian eksploitasi air tanah, ancaman krisis air di Kota Batu akan semakin besar dalam beberapa tahun mendatang.

Editor : Fajar Andre Setiawan
alih fungsi lahan Krisis Air Bersih Lingkungan Hidup Debit Mata Air Mata Air Kota Batu