Serangan Cabuk Merah di Kota Batu Naik 50 Persen Saat Kemarau

Ramizard Rafsanjani • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 17:00 WIB
SERANGAN HAMA: Salah satu petani memanen mawar yang memiliki daun mengkerut akibat serangan cabuk merah beberapa hari lalu. (RAMIZARD RAFSANJANI/RADAR BATU)
SERANGAN HAMA: Salah satu petani memanen mawar yang memiliki daun mengkerut akibat serangan cabuk merah beberapa hari lalu. (RAMIZARD RAFSANJANI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Serangan hama cabuk merah di perkebunan mawar Kota Batu meningkat 50 persen dibandingkan periode kemarau tahun lalu. Dalam satu kebun mawar berisi 15 ribu tanaman, 3 ribu di antaranya terserang cabuk merah tahun lalu. Sementara, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 4,5 ribu tanaman yang terserang. Kondisi ini otomatis mengancam produktivitas ribuan tanaman mawar milik petani.

Petani mawar asal Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Muhammad Didik mengatakan hama cabuk merah mulai menyerang sekitar 15 ribu tanaman yang dikelolanya. Hama tersebut mengisap cairan tanaman hingga menyebabkan daun dan bunga mengerut. Jika tidak segera dikendalikan, tanaman berisiko gagal panen.

Baca Juga: Populasi Hama Ulat di Lahan Pertanian Kota Batu Naik hingga 50 Persen

“Kalau hamanya sudah resisten terhadap obat, bisa gagal panen. Dulu dari 6 ribu tanaman, sekitar 4,5 ribu terserang cabuk hingga mati,” ujarnya. Didik menjelaskan tanaman yang pulih secara alami membutuhkan waktu tiga hingga empat bulan untuk kembali produktif. Namun, jika penyemprotan insektisida berhasil, pemulihan dapat berlangsung sepekan.

Kendati begitu, penggunaan pestisida secara berulang juga berpotensi memicu kekebalan hama. Itulah mengapa ia rutin menyemprotkan insektisida sekali dalam sepekan selama musim kemarau. Selain itu, juga menjaga ketersediaan air dengan penyiraman setiap dua hari. Kecukupan air menjadi faktor penting untuk menjaga daya tahan saat cuaca kering.

Baca Juga: Pemkot Batu Bakal Libatkan Seniman untuk Tata Taman Kota

Kondisi serupa dialami petani mawar asal Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Mulyono. Sekitar 30 persen dari 10 ribu tanaman mawar miliknya terserang kombinasi hama cabuk merah dan ulat. Serangan tersebut menyebabkan daun serta tunas keriting sehingga produksi turun sekitar 20 persen.

Mulyono mengaku masih mengandalkan penyemprotan insektisida satu hingga dua kali dalam sepekan. Tujuannya untuk mengendalikan populasi hama. Ia menilai kedisiplinan perawatan menjadi kunci. “Dengan begitu, serangan tidak semakin meluas dan hama tidak cepat kebal terhadap pestisida,” pungkasnya. (kr2/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
Musim kemarau Hama Tanaman pertanian petani