BATU, RADAR BATU - Sebanyak 34 perupa Kota Batu memanfaatkan pameran seni sebagai ruang menyampaikan kritik terhadap persoalan sosial, politik, dan lingkungan. Lewat pameran bertajuk Like a Rolling Stone di Galeri Raos, Jalan Panglima Sudirman, mereka mengajak publik merefleksikan arah pembangunan dan perubahan wajah Kota Batu.
Pameran yang digagas Yayasan Pondok Seni Batu bersama komunitas seni rupa se-Kota Batu itu berlangsung sejak 11 Juli lalu dan akan berakhir pada 2 Agustus nanti. Salah satu karya yang paling menarik perhatian pengunjung adalah patung tokoh pewayangan Semar karya Agus Sujito, perupa asal Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji.
Semar digambarkan memikul bingkisan berbalut bendera Merah Putih dengan pita berlogo Palang Merah Indonesia (PMI) di pergelangan tangannya. “Indonesia ini kan sedang sakit,” ujar Agus.
Baca Juga: Pengajuan Dispensasi Nikah di Kota Batu Melandai - Radar Batu
Menurutnya, karya tersebut lahir dari kegelisahan terhadap berbagai kebijakan publik yang belakangan ramai diperbincangkan. Di antaranya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.
Melalui sosok Semar, ia ingin mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan proyek dan program. “Membangun negeri ini tidak cukup hanya dengan proyek. Yang dibutuhkan juga nurani dan akal sehat,” tegasnya.
Tak hanya mengangkat kritik sosial, pameran ini juga menyoroti perubahan lingkungan di Kota Batu. Penulis kuratorial Leck Budi menilai alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman dan pariwisata telah mengubah identitas Kota Batu sebagai kota agraris.
Baca Juga: Trotoar Alun-Alun Kota Batu Kembali Dipenuhi PKL Liar - Radar Batu
“Ketenteraman tidak akan pernah tercapai jika fondasi alamnya terus dihancurkan,” ujarnya. Selain Agus, pameran ini juga menampilkan karya sejumlah perupa senior dan muda. Di antaranya A Rokhim, Abdul Sukur, Adi Gimble, dan Ahmad Saihu.
Melalui beragam medium, mereka menjadikan seni bukan sekadar ruang apresiasi. Namun, juga medium menyampaikan kritik dan menggugah kesadaran publik terhadap berbagai persoalan yang dihadapi Kota Batu.
Editor : Fajar Andre Setiawan