BATU, RADAR BATU – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp 16.250 per liter mulai memicu perubahan perilaku konsumen di Kota Batu. Salah satu dampak yang terlihat adalah meningkatnya antrean kendaraan di jalur pengisian Pertalite di sejumlah SPBU. Fenomena tersebut terpantau di SPBU Jalan Panglima Sudirman, Kecamatan Batu, Selasa (16/6).
Mayoritas antrean didominasi kendaraan roda dua yang mengisi BBM bersubsidi. Selisih harga yang kini mencapai Rp 6.250 per liter dibandingkan Pertalite membuat sebagian masyarakat mulai menghitung ulang biaya transportasi harian mereka.
Kondisi tersebut muncul beberapa hari setelah penyesuaian harga Pertamax dari sebelumnya Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara harga Pertalite masih bertahan di angka Rp 10.000 per liter.
Pengguna Pertamax Mulai Menyesuaikan Pengeluaran
Kenaikan harga Pertamax membuat sebagian pengendara memilih alternatif yang lebih terjangkau untuk menjaga stabilitas pengeluaran rumah tangga.
Baca Juga: Cak Nur Pastikan Stok BBM Aman
Mohammad Soleh, warga Kelurahan Songgokerto, mengaku selama ini rutin menggunakan Pertamax untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari. Namun setelah terjadi kenaikan harga, dia memutuskan beralih sementara ke Pertalite.
"Biasanya saya isi Pertamax dua liter dengan Rp 25 ribu dan cukup untuk tiga hari. Sekarang dengan nominal yang sama tidak sampai mendapatkan dua liter. Karena itu mulai minggu ini saya beralih ke Pertalite," ujarnya.
Menurut Soleh, saat ini dirinya mengalokasikan sekitar Rp 30 ribu untuk sekali pengisian Pertalite. Dengan nominal tersebut, ia bisa memperoleh sekitar tiga liter BBM.
"Kalau dihitung memang ada tambahan biaya sekitar Rp 5 ribu dari kebiasaan sebelumnya. Tapi volume BBM yang saya dapat lebih banyak," katanya.
Baca Juga: Mensesneg dan Pertamina Bantah Kenaikan Harga BBM pada April Mendatang
Dilema Konsumen antara Efisiensi dan Performa Mesin
Meski memilih BBM yang lebih murah, tidak semua pengendara merasa nyaman dengan perubahan tersebut. Sebagian masih mempertimbangkan dampaknya terhadap performa kendaraan.
Hal itu diungkapkan Haris Setyawan, 29. Dia mengaku sempat ragu untuk beralih dari Pertamax ke Pertalite karena khawatir terhadap kondisi mesin kendaraan.
"Sebenarnya khawatir juga karena banyak yang bilang kalau pakai Pertalite mesin jadi lebih sering brebet. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang harus menyesuaikan kondisi keuangan," ungkapnya.
Haris mengaku kemungkinan akan kembali menggunakan Pertamax apabila kondisi keuangan memungkinkan. Menurutnya, kenaikan harga BBM membuat masyarakat harus lebih selektif dalam mengatur kebutuhan rutin.
Antrean Pertalite Jadi Fenomena Baru di SPBU Kota Batu
Meningkatnya minat masyarakat terhadap Pertalite membuat antrean di jalur pengisian BBM subsidi terlihat lebih panjang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Meski demikian, hingga kemarin distribusi BBM di sejumlah SPBU di Kota Batu masih berjalan normal dan tidak ditemukan gangguan pasokan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi tidak hanya berdampak pada pola konsumsi energi masyarakat, tetapi juga memengaruhi strategi pengeluaran rumah tangga. Di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, masyarakat cenderung mencari pilihan yang dianggap lebih ekonomis untuk memenuhi kebutuhan mobilitas sehari-hari. (ori)
Editor : Aditya Novrian