Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pancaroba, Petani Apel dan Jeruk di Kota Batu Perketat Proteksi Tanaman

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 4 Juni 2026 | 17:00 WIB
PERTANIAN: Nur Alam, petani asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji merawat bibit jeruk siem di area kebun apel miliknya. Fase pancaroba memaksa petani memperketat proteksi tanaman dari serangan patogen.
PERTANIAN: Nur Alam, petani asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji merawat bibit jeruk siem di area kebun apel miliknya. Fase pancaroba memaksa petani memperketat proteksi tanaman dari serangan patogen.

 

BUMIAJI, RADAR BATU - Pancaroba membuat para petani apel dan jeruk di Kecamatan Bumiaji mempercepat ritme perawatan demi menyelamatkan tanaman mereka. Tingginya kelembapan saat transisi musim ini memicu ledakan populasi fungi alias jamur. Tiga penyakit utama yang kini meneror, yakni antraknosa, kanker batang, dan layu tanaman.

Nur Alam, petani jeruk asal Desa Tulungrejo melipatgandakan intensitas pengobatan. Penyemprotan kombinasi fungisida berbahan aktif kuat seperti Antracol, Nordox, dan Anvil kini disemprotkan rutin seminggu sekali.

BACA JUGA: Ada yang Pakai Koya, Ada yang Tanpa Koya, Ragam Soto di Kota Batu

Dia juga menginjeksikan nutrisi Silika dan Kalium sebagai perisai imun tanaman. “Kalium mengatur buka-tutup stomata agar efisien saat tanaman mengalami stres air. Sedangkan, Silika mempertebal epidermis daun agar sulit ditembus hama thrips dan tungau,” jelasnya.

Udara yang mulai mengering juga menjadi alarm kebangkitan hama pengisap. Bintik merah atau putih di balik daun tua menjadi indikator awal sebelum populasi tungau meledak. Ancaman lain datang dari kutu kebul dan kutu sisik yang mengisap nutrisi ranting. Ekskresi kotoran manis dari hama ini memicu munculnya jamur jelaga hitam yang merusak tanaman.

BACA JUGA: Bediding Melanda Malang Raya, Ini Penyebab Suhu Dini Hari Terasa Sangat Dingin

Krisis dengan skala berbeda menghantam komoditas apel. Nur Ikhsan, petani apel dari desa yang sama menegaskan komoditas ini sangat sensitif terhadap fluktuasi suhu dan defisit air tanah. Potensi serangan jamur penyebab busuk daun dan batang memaksa Ikhsan memperpendek durasi penyemprotan menjadi dua hari sekali.

Kondisi tanah yang mengering di musim pancaroba juga membuat krisis fisiologis. Pasokan Kalsium dari tanah terhambat. Imbasnya, apel mengalami busuk ujung pantat buah. Bagian bawah buah memunculkan bintik amblas cokelat kehitaman yang rasa menjadi pahit.

BACA JUGA: Mahasiswa Bosan Makan Fast Food? Ini Rekomendasi Kuliner Dekat UMM dengan Menu Rumahan hingga Nusantara

Kulit apel yang tipis juga rentan terbakar matahari, mengeras, lalu retak. Jika pohon mengalami dehidrasi parah, tanaman otomatis memproduksi hormon absisi. “Akibatnya, daun tua dan buah muda akan gugur dini demi menghemat cadangan air,” urai Ikhsan.

Angin kencang dan debu kian memperparah keadaan. Hama tungau merah (Tetranychus sp. dan Panonychus sp.) berkembang biak tak terkendali. Efeknya, daun hangus sebelum akhirnya rontok massal. Ditambah lagi, serangan kutu sisik meninggalkan bercak merah pada kulit buah yang langsung menjatuhkan nilai jual di pasaran. (Ramyzard Rafsanjani/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#proteksi tanaman #petani jeruk #petani apel #pancaroba