Tingginya risiko gagal panen pada tanaman hortikultura akibat cuaca ekstrem serta hama, perlahan mulai menggeser pola tanam masyarakat. Banyak petani kini memilih hijrah ke kebun bunga demi menjaga denyut ekonomi keluarga agar tetap mekar di tengah ketidakpastian alam.
RORI DINANDA BESTARI
Lahan di Desa Sumberejo, Kecamatan Bumiaji kini tak lagi seragam hijau. Warna-warni bunga memecah lanskap. Merah, putih, ungu, dan kuning menyatu seperti lukisan. Mawar berdiri di antara aster dan krisan. Pikok tumbuh berbaris rapi nan indah.
Namun, potret itu bukan sekadar estetika. Di balik warna itu, ada trauma petani hortikultura yang gagal panen. Ada hitungan untung-rugi yang berubah. Sayuran mulai ditinggalkan karena terlalu rentan dan sulit diprediksi.
Cuaca tak menentu jadi pemicu utama. Hujan berlebih, lalu panas ekstrem. Kondisi itu membuat akar mudah busuk. Hama cepat berkembang. Kerugian kerap datang serentak.
Bunga menawarkan jalan lain.
Tanaman bunga bukan tak memiliki risiko itu. Namun, setidaknya bisa lebih terukur. Muhammad Yolan, petani bunga di Desa Sumberejo memilih menanam mawar bukan tanpa alasan. “Mawar lebih menyelamatkan,” katanya singkat.
Namun, pilihan itu tidak murah. Perawatan mawar harus telaten. Pestisida wajib rutin dan tak boleh terlambat. Sedikit saja lengah, kualitas turun. Meski begitu, risikonya dianggap lebih ringan. Sementara, sayur kalau sudah salah bisa gagal total.
Setidaknya, bunga masih bisa diselamatkan sebagian jika ada masalah. Petani punya pola baru. Jadwal penyemprotan diatur ketat dan disesuaikan dengan cuaca. Saat hujan tinggi, frekuensi ditambah.
Jamur jadi ancaman utama. Kelopak harus tetap utuh. Masa tanam memang lebih lama, yakni sekitar enam bulan. Namun setelah itu panen bisa rutin. Bunga tak sekali petik. Ia memberi hasil berulang dan lebih stabil secara ritme.
BACA JUGA: Akademisi Bongkar Dugaan Pelanggaran Tata Ruang di Bumiaji, Wisata Diduga Minim AMDAL
Pilihan juga beragam, mulai aster hingga pikok yang terus diminati. Perawatannya juga lebih sederhana. Aster dipanen tiga bulan sekali, sedangkan pikok bisa dua hingga tiga kali tanpa tanam ulang. Selain itu tenaga lebih hemat, sehingga biaya lebih terkendali.
Dari sisi harga, bunga cukup menjanjikan. Mawar dan gompie memimpin pasar lantaran serapannya jelas. Satu ikat mawar dihargai sekitar Rp30 ribu. Gompie setara untuk 10 batang. Nilainya pun relatif stabil. Berbeda dengan harga sayur yang bisa jatuh tiba-tiba.
BACA JUGA: Bumiaji Disulap Jadi Wisata, Akademisi UM Sebut Menyimpang dari Tata Ruang
Namun bunga bukan tanpa beban. Biaya produksi tetap tinggi, bahkan cenderung naik. Obat setengah liter mencapai Rp400 ribu. Pupuk subsidi nyaris tak ada. Semua petani bunga harus membeli pupuk secara mandiri.
Modal awal jadi tantangan. Tak semua petani mampu. Fenomena ini juga dirasakan Irgi Efendi. Petani muda itu memilih budidaya pikok. Ia melihat efisiensi sebagai kunci. “Tidak perlu olah tanah berulang,” ujarnya.
Satu kali tanam bisa panen berkali-kali. Prosesnya dianggap lebih praktis. Dalam tiga bulan, hasil sudah terlihat. Lebih cepat dari sebagian komoditas lain. Dari lahan 400 meter persegi, Ia bisa meraih laba Rp5 juta bersih.
BACA JUGA: Kejari Kota Batu Periksa Enam Saksi Dugaan Korupsi Pasar Induk Among Tani
Dalam satu siklus, harga pikok sekitar Rp8 ribu per ikat. Angkanya cukup stabil dan menjanjikan. Namun, cuaca tetap jadi ancaman. Hujan deras bisa merobohkan batang.
Kelopak pun mudah rontok.
Untuk itu, pemilihan varietas jadi penting. Sebab, tidak semua tahan dan cocok. Pasar juga tak selalu ramai. Permintaan kadang lesu. Sistem distribusi bergilir. Namun Irgi tetap bertahan. Ia tak ingin kembali ke sayur.
Bunga memberinya kendali, meski tidak sepenuhnya aman. Kini, lanskap Kota Batu perlahan berubah. Dari ladang pangan menjadi taman komersial. Indah dipandang tapi menyisakan pertanyaan panjang. Apakah ini adaptasi atau tanda pertanian pangan mulai ditinggalkan. (*/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan