PAGI di Kota Batu dulu terasa sunyi. Udara dingin turun dari lereng Panderman. Di jalan-jalan desa, petani berjalan membawa keranjang hasil panen. Aroma tanah basah bercampur dengan wangi apel dari kebun-kebun warga. Kini pemandangan itu tidak selalu mudah ditemukan.
Di beberapa sudut kota, suara mesin proyek terdengar sejak pagi. Klakson bus pariwisata bersahutan. Kendaraan yang membawa rombongan wisatawan datang silih berganti. Kota Batu perlahan berubah wajah. Dulu kota ini dikenal sebagai kota pertanian. Lahan sayur dan kebun buah membentang luas di lereng pegunungan.
Apel menjadi komoditas paling ikonik. Wisatawan datang untuk merasakan suasana desa. Mereka memetik buah langsung dari kebun. Menyusuri udara pegunungan yang tenang.
Transformasi besar dimulai pada 1980-an. Edy Antoro, pionir Kusuma Agrowisata memperkenalkan konsep wisata petik apel.
Gagasan itu sederhana tetapi visioner. Pertanian tidak hanya menjadi sektor produksi. Ia juga menjadi pengalaman wisata. Petani menjadi tuan rumah. Wisatawan datang untuk belajar sekaligus menikmati hasil kebun. Konsep agrowisata itu sukses besar. Batu semakin dikenal sebagai kota apel. Ribuan wisatawan berdatangan setiap musim liburan.
BACA JUGA Seluruh Jemaah Umrah Asal Kota Batu Pulang dengan Selamat di Tengah Konflik Timur Tengah
Namun, keberhasilan itu juga membawa konsekuensi baru. Popularitas Batu menarik perhatian investor besar. Modal mulai mengalir ke sektor pariwisata. Hotel, vila, dan taman rekreasi bermunculan. Lahan-lahan pertanian mulai berubah fungsi. Harga tanah melonjak drastis. Tanah yang dulu dihargai ribuan rupiah per meter perlahan naik menjadi jutaan.
Bagi sebagian petani, angka itu terlalu menggoda untuk ditolak. Banyak yang akhirnya menjual lahannya. Sawah dan kebun di lereng Panderman berubah menjadi vila, kafe, dan resort. Lanskap pertanian perlahan terfragmentasi.
Alih fungsi lahan terjadi semakin cepat. Andrek Prana, Ketua Kelompok Kerja Peningkatan Status Kota Batu mengingat kembali cita-cita awal pembentukan kota otonom tersebut. Menurut dia, Batu dulu dirancang sebagai kota bernuansa desa. Konsep itu bukan sekadar slogan. Para perumusnya ingin mempertahankan identitas pedesaan.
Desa-desa di Batu diharapkan tetap menjadi tulang punggung wilayah. Gotong royong harus tetap hidup. Harmoni dengan alam dijaga. Bahkan ada filosofi sederhana yang dulu sering diucapkan. Rumah tidak boleh lebih tinggi dari pohon. Sawah harus tetap lebih luas dari bentangan beton.
Namun dua dekade berlalu. Wajah kota berubah jauh dari bayangan awal. Nuansa desa perlahan memudar. Rimba beton tumbuh cepat di berbagai sudut kota. Hotel dan apartemen menjulang di kaki gunung. Bangunan-bangunan tinggi menembus cakrawala yang dulu didominasi pohon.
BACA JUGA Tabrakan Tiga Kendaraan di Jalan Pattimura Kota Batu Berakhir Damai
Pertumbuhan ekonomi memang terlihat jelas. Pendapatan Asli Daerah Kota Batu meningkat pesat. Kota ini menjadi magnet investasi baru di Jawa Timur. Namun perubahan itu juga membawa konsekuensi. Tekanan terhadap lingkungan semakin terasa.
Kualitas udara menurun. Kemacetan mulai muncul terutama saat akhir pekan. Di beberapa wilayah, warga mulai merasakan krisis air bersih. “Tanpa sadar kita bisa saja sedang menggali kubur bagi lingkungan sendiri,” kata Andrek.
Alih fungsi lahan juga memengaruhi sektor pertanian. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu menunjukkan penyusutan lahan pertanian dalam beberapa tahun terakhir. Luas lahan tanaman pangan turun dari 727 hektare menjadi sekitar 577 hektare.
Penurunan juga terjadi pada komoditas sayuran. Dari sekitar 40.200 hektare menyusut menjadi 37.480 hektare. Penyempitan ruang tanam berdampak langsung pada produksi. Beberapa komoditas hortikultura mengalami penurunan hasil panen.
Kepala BPS Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo mencatat penurunan produksi pada sejumlah komoditas. Salah satunya bawang daun. Luas lahannya berkurang sekitar 35 hektare atau sekitar 6,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Komoditas buah juga menghadapi tekanan serupa. Produksi apel yang menjadi ikon utama kota ini terus menurun. Penyebabnya berlapis. Degradasi tanah, perubahan iklim, hingga biaya perawatan yang semakin mahal.
Sebagian petani mulai beralih ke tanaman jeruk. Komoditas ini dianggap lebih tahan terhadap perubahan kondisi tanah. Perubahan iklim ikut memperumit situasi. Suhu udara yang ideal bagi hortikultura di Batu berkisar antara 15 hingga 24 derajat Celsius.
BACA JUGA Silpa Kota Batu Sebesar Rp126 Miliar Jadi Sorotan dalam Rapat Paripurna
Namun dalam beberapa tahun terakhir suhu cenderung meningkat. Indeks kualitas udara menunjukkan penurunan. Pertumbuhan kendaraan, pembangunan infrastruktur, dan pembukaan lahan menjadi faktor utama.
Batu kini berada di persimpangan. Pariwisata membawa keuntungan ekonomi yang besar. Namun pada saat yang sama, sektor ini juga memberi tekanan pada lingkungan dan ruang hidup pertanian.
Pertanyaan besarnya sederhana tetapi krusial. Apakah sebuah kota bisa tumbuh modern tanpa kehilangan identitasnya? Ataukah kemajuan itu justru datang dengan mengorbankan ladang-ladang yang dulu membesarkannya.
Editor : Fajar Andre Setiawan