Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Belum Tiga Bulan, 86 Bencana Menghantam, 15 Rumah Terdampak di Sembilan Desa/Kelurahan Direhabilitasi

Zanadia Manik Fatimah • Jumat, 20 Maret 2026 | 16:30 WIB
Rumah di Kota Batu. ZANADIA MANIK FATIMAH/RADAR BATU
Rumah di Kota Batu. ZANADIA MANIK FATIMAH/RADAR BATU

 

BATU - Intensitas bencana alam di Kota Batu melonjak tajam pada awal tahun ini. Sejak Januari hingga 10 Maret, tercatat 86 kejadian bencana yang dipicu cuaca ekstrem. Data tersebut menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam waktu kurang dari tiga bulan. Kondisi ini menjadi peringatan atas tingginya kerentanan bencana di kawasan Kota Batu.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Batu Suwoko mengatakan lonjakan paling tajam terjadi pada Maret. “Baru 10 hari berjalan, Maret sudah mencatat 38 kejadian. Ini lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya,” ujarnya.

Secara rinci, Januari mencatat 34 kejadian. Angka itu sempat turun pada Februari menjadi 14 kejadian. Namun, intensitas kembali meningkat tajam pada Maret. Jenis bencana yang mendominasi antara lain tanah longsor, banjir, angin kencang, pohon tumbang, hingga plengsengan ambrol dan luapan air.

 BACA JUGA Arak Ogoh-Ogoh, Warga Lintas Agama di Kota Batu Bersatu Sambut Nyepi

Dampaknya tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga hunian warga. Tercatat 15 rumah mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan. Kerusakan tersebar di sembilan desa dan kelurahan di tiga kecamatan. Mayoritas terjadi pada bagian atap rumah akibat terpaan angin kencang dan hujan deras.

“Banyak atap rumah rusak, bahkan ada yang ambruk. Sebagian juga terdampak longsor dan pohon tumbang,” kata Suwoko. Salah satu kejadian terjadi di Desa Beji. Sebuah rumah mengalami kerusakan atap setelah diguyur hujan deras. Kondisi bangunan yang sudah rapuh memperparah dampak kerusakan.

Selain rumah, bencana juga merusak infrastruktur. Di antaranya plengsengan, jembatan, trotoar, hingga bangunan usaha. Kerusakan trotoar terjadi di Kelurahan Sisir akibat tanah bergerak. Sementara di Jalan Raya Oro-Oro Ombo, sebuah gudang sayur mengalami kerusakan parah setelah diterjang angin kencang pada Januari lalu.

Atap gudang seluas sekitar 500 meter persegi roboh akibat konstruksi penyangga yang telah lapuk. Kondisi serupa juga terjadi pada gudang milik warga di Desa Bumiaji yang rusak pada awal Maret. Setiap kejadian bencana ditangani melalui kaji cepat di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan penanganan darurat dan tindak lanjut pemulihan.

“Kaji cepat dan koordinasi lintas instansi menjadi langkah awal setiap penanganan,” ujar Suwoko. Untuk penanganan pascabencana, rehabilitasi rumah kini ditangani oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman. Hingga 16 Maret lalu, tercatat 15 rumah masuk daftar penerima bantuan perbaikan.

 BACA JUGA Tak Punya Jalan Nasional, Kota Batu Kewalahan Hadapi Lonjakan Wisatawan

Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Batu Prasetyo Bagus Wicaksono mengatakan pembagian tugas ini bertujuan agar penanganan lebih fokus dan tepat sasaran. Dengan skema tersebut, penanganan darurat tetap ditangani BPBD, sementara proses rehabilitasi dilakukan oleh dinas teknis.

Anggaran Perbaikan Pascabencana Naik Rp100 Juta

Risiko bencana yang masih tinggi mendorong peningkatan anggaran rehabilitasi rumah warga. Pemerintah Kota Batu menaikkan alokasi perbaikan pascabencana menjadi Rp250 juta pada 2026, atau bertambah Rp100 juta dibanding tahun sebelumnya.

Kenaikan anggaran ini disiapkan untuk mengantisipasi kerusakan rumah akibat cuaca ekstrem yang kerap terjadi beberapa waktu terakhir. Prasetyo mengatakan penyesuaian dilakukan berdasarkan proyeksi kebutuhan. “Tahun ini dialokasikan Rp250 juta untuk rehabilitasi rumah pascabencana, menyesuaikan potensi kejadian tak terduga,” ujarnya.

Rinciannya, Kelurahan Temas dua rumah, Desa Oro-Oro Ombo tiga rumah, Desa Songgokerto satu rumah, Desa Sumberbrantas dua rumah, Desa Beji satu rumah, Desa Giripurno dua rumah, Desa Junrejo satu rumah, Desa Pandanrejo dua rumah, serta Desa Bumiaji satu rumah.

 BACA JUGA One Way dan Jalur Alternatif Masih Jadi Andalan Rekayasa Lalin Pemkot Desak Peningkatan Status dari Lokal ke Nasional

Sebagian besar kerusakan terjadi pada bagian atap rumah. Angin kencang dan hujan deras menjadi penyebab utama. “Mayoritas rusak di atap. Ada yang sebagian hingga ambruk total, bahkan merembet ke dinding,” kata Prasetyo.

Tingkat kerusakan bervariasi, mulai ringan hingga berat. Besaran bantuan disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Bantuan diberikan dalam bentuk material bangunan, bukan uang tunai. Setelah kejadian, tim melakukan kaji cepat untuk mendata dampak kerusakan.

Warga kemudian mengajukan proposal bantuan. Selanjutnya dilakukan survei lapangan untuk menentukan kebutuhan material. Proses perbaikan umumnya dilakukan secara swadaya oleh warga. Material dari pemerintah dimanfaatkan melalui kerja gotong royong di lingkungan setempat.

“Tenaga kerja biasanya dari warga. Pemerintah membantu material,” ujarnya. Wilayah Kecamatan Bumiaji tercatat menjadi daerah dengan tingkat kerawanan lebih tinggi. Beberapa desa di wilayah ini masuk dalam daftar lokasi terdampak.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Batu berperan dalam pendataan awal melalui kaji cepat di lokasi kejadian. Hasilnya kemudian ditindaklanjuti bersama instansi terkait untuk proses rehabilitasi. Dengan penambahan anggaran ini, pemerintah berharap penanganan kerusakan rumah bisa lebih cepat.

Editor : Fajar Andre Setiawan
#insentif bencana alam #perbaikan rumah #pascabencana