MALANG KOTA - Ramainya kunjungan wisata di kawasan Kajoetangan Heritage, Kota Malang mulai dimanfaatkan sejumlah oknum untuk meraup keuntungan dengan modus penjualan produk berkedok donasi sosial. Fenomena ini dikeluhkan sejumlah pengunjung karena dinilai tidak transparan dan cenderung menekan secara psikologis.
Praktik tersebut belakangan kerap muncul di titik-titik keramaian kawasan heritage. Oknum penjual mendekati wisatawan dengan mengaku sebagai mahasiswa yang tengah menggalang dana sosial. Mereka menawarkan berbagai produk sederhana, mulai keripik, bakso aci instan, hingga kerajinan tangan. Harga yang dipatok jauh di atas harga pasar.
Sinta Indah, salah satu pengunjung mengaku sempat membeli produk tersebut. Ia terkejut ketika mengetahui harga yang diminta. “Satu bungkus keripik yang biasanya Rp10-15 ribu dijual sampai Rp30 ribu bahkan Rp50 ribu,” ujarnya.
Penjual berdalih keuntungan dari penjualan itu akan disumbangkan untuk panti asuhan atau membantu penderita kanker. Narasi tersebut kerap membuat wisatawan merasa iba dan akhirnya membeli produk yang ditawarkan.
Indah menilai pendekatan yang digunakan cukup sistematis. Penjual biasanya memulai percakapan dengan obrolan santai sebelum menawarkan produk. “Awalnya seperti ngobrol biasa. Tidak terasa kalau sebenarnya mereka mau jualan,” katanya.
Namun, setelah mulai menjelaskan produk, penjual terus berbicara tanpa jeda. Bahkan barang langsung diletakkan di tangan calon pembeli sebelum ada persetujuan. Situasi itu membuat pengunjung merasa tidak enak untuk menolak.
Indah sempat mencoba menanyakan kejelasan penyaluran donasi yang diklaim penjual. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban yang jelas. “Jawabannya muter-muter. Katanya untuk panti asuhan, tapi panti mana dan bagaimana laporannya tidak dijelaskan,” ujarnya.
Pengalaman serupa dialami Yanuar Syahputra. Dia mengaku pernah beberapa kali membeli produk serupa sebelum menyadari pola yang mencurigakan. Menurutnya meskipun penjualnya berbeda-beda, pola pendekatan yang digunakan hampir sama.
Narasi, cara berbicara, hingga cara menawarkan produk terlihat seragam. Kemasan produk juga dibuat cukup meyakinkan agar terlihat profesional. Namun bagi Yanuar, praktik tersebut tetap bermasalah. “Seolah-olah mereka sudah dilatih sebelumnya,” katanya.
Bagi Yanuar ini bukan soal uang. Namun, soal nama baik panti asuhan dan orang sakit yang dijadikan alasan untuk mencari keuntungan. Belakangan muncul informasi bahwa beberapa penjual diduga memiliki afiliasi dengan kelompok tertentu di luar kampus.
Meski belum terkonfirmasi, praktik tersebut dinilai berpotensi merusak citra kawasan Kajoetangan Heritage. Padahal kawasan itu tengah dikembangkan sebagai ikon wisata sejarah Kota Malang. (Wanasa Rahmat Akbar Adzani/ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan