BATU - Sebanyak 2.000 orang tumplek blek di jalan sekitar Pondok Pesantren Manbaul Ulum Hajasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu kemarin (23/10). Mereka duduk bersila di atas karpet dan terpal yang digelar di jalan. Di depan ribuan orang itu tersaji makanan beralaskan daun pisang. Ya, mereka menggelar kenduri untuk merayakan peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober lalu.
Setidaknya ada sekitar 18 lembaga keagamaan yang datang. Mulai dari pondok pesantren (ponpes), Taman Pendidikan Al-quran (TPA), Madrasah Diniyah (Madin), madrasah, hingga majelis taklim. “Masyarakat sekitar juga turut hadir memeriahkan,” terang Gus Fathul Yasin, Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Ulum.
Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Batu itu mengatakan kenduri digelar sebagai refleksi dan pelestarian tradisi gotong royong serta guyub rukun. Sebab, para peserta membawa lauk pauk dan kudapan untuk dinikmati bersama-sama di sana. Sementara, nasi dihidangkan dari panitia acara.
Lauk pauk dan kudapan dari peserta dikumpulkan di pos khusus di Ponpes Manbaul Ulum Hajasi sejak pukul 11.00 siang. Panitialah yang bertugas menata makanan itu di atas daun pisang. Lebih lanjut, Fathul menyebut kenduri juga bertujuan memperkuat silaturhami antarumat muslim. Kegiatan itu sudah rutin digelar dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
“Tahun lalu kami hanya memasak untuk 1.800 orang saja sedangkan tahun ini meningkat menjadi 2.200 porsi,” terangnya. Kenduri melambangkan kebersamaan, kerukunan, dan semangat kekeluargaan. Hal itu sesuai dengan instruksi Wali Kota Batu untuk terus merawat budaya dan tradisi lokal.
Wali Kota Batu Nurochman turut hadir dalam kegiatan itu. Dia mengapresiasi peran Pondok Pesantren dalam merangkul warga. Termasuk dalam upaya merawat tradisi dan untuk menciptakan lingkungan yang tentram dan damai. “Semoga santri menjadi pelopor perdamaian, penjaga moral bangsa, dan mitra strategis dalam membangun daerah,” ujarnya.
Dirinya mengatakan pesantren merupakan kawah candradimuka pembentukan karakter santri. Itu menjadi tempat melahirkan generasi berilmu, berakhlak, dan berjiwa pemimpin. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho