BATU - Minat masyarakat untuk melakukan jual beli ternak di pasar hewan semakin menurun. Aktivitas tersebut kini lebih banyak dilakukan secara online melalui komunitas masing-masing. Penggunaan media sosial sebagai sarana promosi hingga jual beli juga semakin masif. Tak heran kini pasar hewan makin sepi dan ditinggalkan.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Koperasi Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Nurbianto Puji mengakui sepinya aktivitas jual beli di pasar hewan. Menurutnya ada indikasi perubahan preferensi dan perilaku masyarakat dalam melakukan transaksi jual beli. Seperti pemasaran dan transaksi yang dilakukan secara online.
Perubahan tersebut juga didorong adanya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang merebak beberapa waktu lalu. Sehingga, banyak pedagang khawatir untuk melakukan aktivitas jual beli secara langsung di sana. Pasalnya, virus PMK sangat mudah menular. Kendati begitu, Nurbianto mengaku tak pernah menutup pasar tersebut.
“Kami saat itu hanya melakukan pembatasan saja. Untuk meminimalisasi potensi penyebaran virus,” ungkapnya. Setelah PMK, kondisi pasar hewan memang belum pernah pulih 100 persen jika dilihat dari jumlah pedagang ternak yang ada di sana. Hanya sebagian kecil pedagang yang masih bertahan. Kebanyakan yakni penjual kambing.
Dia mengaku stok hewan setelah PMK juga masih terus ditingkatkan. Namun, upaya tersebut lagi-lagi terbentur kondisi ekonomi nasional yang sedang lemah saat ini. Sehingga daya beli masyarakat juga ikut anjlok. “Masyarakat lebih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari daripada investasi jangka panjang,” imbuh pria yang akrab disapa Kentor itu.
Kepala Bidang Peternakan dan Perikanan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Sri Nurcahyani Rahayu juga menilai penurunan aktivitas jual beli di pasar hewan terjadi lantaran pedagang ingin mengurangi risiko penyebaran PMK yang sempat meningkat lagi pada awal tahun ini.
“Sejak saat itu larangan jual beli untuk sementara waktu diterapkan,” terangnya. Tampakya pedagang asal Kota Batu masih waspada hingga saat ini. Khususnya untuk mendatangkan hewan ternak dari luar daerah. Sejauh ini pengurusan izin pengaktifan kembali pasar masih belum dilakukan secara resmi. “Yang terpenting ada surat jalan untuk hewan dan sanitasi disana aman,” pungkasnya. (dia/dre)
Editor : A. Nugroho