11 Siswa Dilaporkan Sempat Mengalami Muntah-Muntah
BATU - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu mulai muncul masalah. Sejumlah sekolah terpaksa berhenti menerima kiriman paket makanan tersebut. Alasannya, beberapa kali makanan yang didistribusikan dalam kondisi basi dan tidak layak makan.
Salah satu sekolah yang memutus penyaluran MBG dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kelurahan Sisir adalah SMA Negeri 1 Batu. Anto, sang kepala sekolah mengaku sudah tidak menerima kiriman MBG sejak kemarin (26/9). Penyebabnya tidak hanya karena beberapa kali menerima lauk dan sayur yang sudah basi. Namun, juga lantaran kondisi peralatan makan yang dinilai tidak steril.
Anto mengaku masih mencium bau amis di ompreng MBG. Tentu itu membuatnya khawatir. Sebab, peralatan makan yang tidak bersih juga bisa memicu gangguan kesehatan. Otomatis dia melarang siswa mengonsumsi makanan tersebut.
“Akhirnya kami kembalikan paket makanan tersebut ke SPPG,” ujarnya. Setelah itu, dia memutuskan untuk menghentikan pengiriman paket MBG dari program yang baru berjalan delapan hari itu ke SMA Negeri 1 Batu. Itu ia lakukan untuk mengantisipasi kejadian keracunan makanan yang marak terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
“Bahkan, di SMP Negeri 1 Batu sempat ada 11 anak yang muntah-muntah,” imbuhnya. Beruntung, dari 11 anak tersebut tidak ada yang memerlukan tindakan medis yang serius. Alias tidak sampai ada yang perlu dilarikan ke rumah sakit. Anto mengaku sudah melaporkan hal itu ke pihak SPPG dan Polres Batu untuk dijadikan sebagai bahan evaluasi.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Negeri Kota Batu menambahkan pemberhentian penyaluran MBG tidak hanya dilakukan di sekolah-sekolah yang melaporkan adanya masalah saja. Melainkan dilakukan di semua sekolah yang dijangkau SPPG Kelurahan Sisir.
“Pemberhentian sementara ini belum diketahui berlaku sampai kapan,” ujarnya. Anto juga mengaku tak mengetahui persis berapa jumlah sekolah yang diakomodasi dapur SPPG tersebut. Dirinya berharap pihak SPPG melakukan evaluasi terhadap jadwal pemrosesan, pengemasan, hingga kualitas makanan sebelum didistribusikan ke sekolah.
Sementara itu, salah seorang siswa SMA Negeri 1 Batu Amel (bukan nama sebenarnya) mengaku menerima paket MBG dalam kondisi basi sejak hari pertama yakni 18 September lalu. Misalnya lauk tempe yang rasanya kecut dan nasi goreng yang sedikit berlendir. Bahkan, Amel menduga MBG itu masakan dari hasil pemrosesan ulang.
“Jadi kayak masakan kemarin yang dihangatkan lagi,” bebernya. Sehingga wajar bila rasanya cenderung aneh dan bau tidak sedap. Namun, pengakuan serupa tidak dilakukan semua siswa. Ada beberapa siswa yang mengaku menerima makanan dalam kondisi yang aman. Siswa yang melaporkan keluhan langsung mendapat paket MBG yang baru.
Terpisah, Kepala SMP Negeri 1 Batu Tatik Ismiati enggan memberikan komentar terkait paket MBG yang basi dan 11 siswanya yang diduga keracunan. Pihaknya hanya menyampaikan jika permasalahan itu sudah dibicarakan dengan pihak terkait. “Susah clear dan sudah diselesaikan pihak terkait,” ujarnya singkat saat dikonfirmasi.
Dikonfirmasi terpisah, Koordinator SPPG Kota Batu Meita juga enggan memberikan keterangan terkait keluhan lauk dan sayur basi dalam paket MBG yang diterima sejumlah sekolah di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu itu. “Silakan bersurat ke Badan Gizi Nasional (BGN) jika ada yang diperlukan,” responnya singkat dalam pesan WhatsApp kemarin. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho