BATU - Potensi kerja sama antara investor dengan Pemerintah Desa (Pemdes) Oro-Oro Ombo masih terbuka lebar.
Desa tersebut masih memiliki Tanah Khas Desa (TKD) yang cukup luas yakni 33,5 hektare. Sebenarnya, TKD OroOro Ombo seluas 47,9 hektare. Namun, 14,4 hektare TKD sudah dikerjasamakan.
Kepala Desa Oro-Oro Ombo Wiweko mengatakan 70 persen TKD yang belum dikerjasamakan itu masih berupa lahan kosong. Sebagian ada yang ditanami rumput untuk pakan ternak oleh masyarakat sekitar.
Dia menilai TKD Oro-Oro Ombo cocok untuk bisnis penginapan dan wisata. Namun, Wiweko berkomitmen untuk menerima kerja sama pendirian hotel berbintang atau resort saja.
Baca Juga: Sistem Pinjam Pakai Aset Tanah di Kota Batu Dihapus
Sebab, sejauh ini banyak tawaran kerja sama untuk pendirian hotel melati. Dia menilai itu akan membunuh bisnis vila yang banyak dijalankan masyarakat di Desa Oro-Oro Ombo.
“Kalau hotel berbintang kan segmentasinya berbeda,” ujarnya.
Sejauh ini kerja sama sudah dilakukan dengan Jawa Timur Group dengan pendirian Batu Night Spectacular (BNS).
Manfaatnya pun sudah dirasakan masyarakat sekitar. Mulai dari terbukanya lapangan kerja hingga pergerakan roda ekonomi yang kian pesat. Kendati santer penolakan di awal-awal rencana kerja sama tersebut.
Baca Juga: Warga Sumbergondo Ajukan Pembangunan Tembok Penahan Tanah
“Pegawai BNS hampir 70 persen merupakan warga Desa Oro-Oro Ombo. Dengan adanya objek wisata itu bisnis vila masyarakat juga semakin bergeliat,” tegasnya.
Dia mengaku baru-baru ini ada investor beberapa penginapan dengan konsep cottage. Rencananya itu akan dibangun di TKD seluas tiga hektare.
Kepala Bidang Perencanaan Pembangunan, Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur, dan Kewilayahan (P3SDAIK) Bappelitbangda Kota Batu Rizaldi kini investor mulai melirik bagian selatan. Seiring pemerataan pembangunan dan pengembangan Kota Batu.
”Karena sisi utara banyak lahan hijau,” tandasnya. (ori/dre)
Editor : Aditya Novrian